Waspada, Ketinggian Air Laut Lewati Batas

JAYAPURA – Kondisi perairan kawasan pesisir di Teluk Yotefa yang banyak ditumbuhi pohon mangrove perlahan mengalami penurunan  luasan.  Kondisi ini terus terjadi dan belum ada upaya konkret untuk   merehabilitasi atau merevitalisasi kawasan yang terdegradasi.

  Salah  satu peneliti FMIPA Uncen, Jhon D Kalor S.SI, M.Sc/M.I.N.C menyampaikan bahwa indikator hilangnya luasan hutan mangrove diakibatkan karena alih fungsi lahan, industri dan masuknya perumahan termasuk pengembangan jalan Hamadi-Holtekam.

   Ini bisa dilihat dari tingkat kerapatan menggunakan formula Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) menyebutkan luasan mangrove di Taman Wisata Alam Teluk Yotefa sebesar 233,12 Ha dengan tingkat akurasi sebesar 85,45 %. Hasil analisis indeks vegetasi didominasi dengan kerapatan sedang seluas 152,73 Ha, sedangkan mangrove kerapatan padat 38.63 Ha dan kerapatan panjang jarang 41,76 Ha.

  “Ini hasil penelitian dari tiga peneliti Uncen,  dimana menunjukkan bahwa tingkat kerapatan padat jumlahnya paling rendah sedangkan kerapatan jarang lebih tinggi sehingga menunjukkan jika luasan semakin hilang,” kata Jhon.

  Ia menyebut kerapatan mangrove ini sudah berkurang sekitar 50 persen dan substrack dipenuhi oleh sampah. “Untuk penyebabnya kebanyakan alih fungsi lahan, industri, perumahan termasuk pengembangan jalan jembatan Hamadi Holtekam. Untuk tahun 1980 kondisi hutan mangrove masih baik, nanti 20 tahun terakhir barulah laju percepatan kerusakan semakin kencang,” katanya. Dampaknya adalah tiga kampung yakni Tobati, Engros dan Nafri yang merasakan dampaknya dimana ikan, kepiting maupun kerang atau bia sudah sulit diperoleh.

   Menariknya adalah dampak lain dari hilangnya cakupan lahan ini adalah pada tiga kampung di atas dulunya jika air pasang setinggi apapun tidak akan mengganggu pondasi rumah. “Namun saat ini banyak  rumah yang terendam air dan itu sudah terjadi. Karena luasan lahan yang semakin hilang. Jika ada yang di titik ditimbun maka akan ada yang titik yang naik,” katanya. Solusinya sendiri kata dosen FMIPA ini bukan dikeruk melainkan melakukan penanaman dan pembersihan sampah yang menumpuk di dasar perairan,” imbuhnya. (ade/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *