Banyak Soal di Papua yang Harus Diinvestigasi

Gamel/Cepos

HARUS KEPO-Pemateri peliputan inestigasi, Bahja Hidayat ketika memberi materi peliputan berita investigasi kepada wartawan dan LSM di Grand Abe Hotel, Senin (23/7) kemarin. Modal untuk mendapatkan bahan atau data salah satunya harus kepo atau penasaran. 

JAYAPURA – Papua tak hanya menyimpan sumber daya alam (SDA) yang menjanjikan, namun dibalik itu, banyak soal yang hingga kini muncul silih berganti.  Persoalan tersebut berkaitan dengan ekonomi sosial budaya termasuk SDA.

   Terkait ini  Yayasan Kipra menggelar Lembaga Sosial Masyarakat, Kipra Papua melakukan pelatihan jurnalis  investigasi bagi mitra setapak II dan masyarakat dengan tujuan menanamkan jiwa investigasi untuk ikut berkontribusi menulis terkait hutan di Papua.

  Untuk materi penulisan sendiri diberikan oleh Bagja Hidayat, salah satu wartawan Tempo, Jakarta.  “Kami ingin ada sebuah topik atau isu terutama yang berkaitan dengan kejahatan lingkungan yang bisa dijadikan topik untuk dilakukan investigasi, khususnya wilayah Kabupaten Keerom, Kabupaten Jayapura dan Nabire,” jelas Plt Yayasan Kipra Papua,  Eduard Agaki usai membuka kegiatan di Grand Abe Hotel, Senin (23/7). Kegiatan ini tak hanya diikuti oleh para jurnalis tetapi juga LSM.

   Yayasan Kipra juga berharap ada sebuah report investigasi yang baik dan mengungkap hal-hal yang tak diketahui publik khususnya berkaitan dengan perkebunan kelapa sawit yang ada di Kabupaten Jayapura, Kabupaten Keerom dan Nabire. Sejak keberadaan perkebunan kelapa sawit hingga puluhan tahun beroperasi dan dampaknya hingga kini. Pasalnya banyak hal yang tak diketahui publik terkait eksistensi perusahaan kelapa sawit yang dianggap tidak memberi dampak positif pada masyarakat di sekitar lokasi dan juga mengakibatkan ribuan hektar lahan rusak akibat clean and clearing ini.

   Kipra juga memberi ruang dengan mensuport jurnalis yang ingin melakukan peliputan investigasi terkait isu perkebunan dan kehutanan. “Kami siap mendukung dengan sedikit anggaran yang penting memasukkan proposal yang isunya soal lingkungan,” kata Agaki.   

  Sementara Bagja Hidayah dalam menyampaikan teori peliputan investigasi menyebut bahwa ada beberapa hal yang diperlukan yakni  curious dan skeptic. Setiap penulis harus menumbuhkan rasa ingin tahu, penasaran atau kepo dalam bahasa zaman sekarang pada dirinya.   Dari rasa penasaran dan curiga inilah akan lahir pertanyaan yang harus dikaitkan dengan para narasumber. “Untuk senjatanya diperlukan pertanyaan, dokumen dan banyak mendengar cerita jadi rasa ingin tahunya harus tinggi dan yang jelas impact dari berita nvestigasi ini bukan untuk memenjarakan seseorang tetapi lebih pada bagaimana bisa memperbaiki sistem,” ungkap Bagja. Untuk hari kedua ini, para peserta kegiatan  akan diminta untuk menulis berita investigasi. (ade/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *