Masalah HAM Papua Harus Lebih Diperhatikan

Gratianus Silas/Cepos
Laurenzus Kadepa

JAYAPURA- Anggota Komisi I DPR Papua, Laurenzus Kadepa, yang mana mengingatkan kembali akan laporan Amnesty International yang baru-baru ini telah menyoroti pelanggaran HAM di Papua, harus menjadi perhatian serius. Hal ini berkaitan dengan masih adanya pelangaran HAM di Papua, seperti  peristiwa di Nduga, yang merupakan satu peristiwa kemanusiaan yang mesti diperhatikan dengan seksama oleh Pemerintah Indonesia.

  “Artinya, seharusnya kita lebih berhati-hati melihat Papua kedepannya–harus lebih humanis. Bukan apa, sebab, dibilang di mulut itu Papua aman, pendekatannya pun dilakukan secara dialogis dan humanis. Tapi praktek di lapangan itu lebih jahat dari zaman Orde Baru. Makanya itu, sistem, dalam hal ini pola pendekatannya itu yang harus diubah,” ungkap Laurenzus Kadepa kepada Cenderawasih Pos, Jumat (22/7) lalu.

   Makanya, dengan adanya peristiwa Nduga, serta pula laporan Amnesty International beberapa waktu yang lalu, maka hal ini menuntut Pemerintah Pusat untuk mengubah cara pandangnya terhadap Papua. Artinya, jangan hanya melihat profit dari pada hasil bumi yang ada di Papua, sementara manusianya diabaikan.

   “Kalau cara pandang ini tidak diubah, maka intervensi dunia internasional bisa terjadi untuk Papua. Pasalnya, laporan-laporan seperti itu bukan baru kali ini. Sebelumnya pun sudah ada dari Gereja Katolik Australia, terus dari organisasi-organisasi lain, dan negara-negara lain,” tambahnya.

   Di sisi lain, kalau sampai terjadi intervensi dari dunia internasional terkait persoalan HAM di Papua, maka hal ini bukanlah kesalahan rakyat Papua karena mau agar diintervensi. Sebaliknya, hal ini merupakan pemantauan dunia internasional terhadap Papua, karena perlakuan Pemerintah Indonesia dan ulah aparat keamanan.

   “Pandangan Jakarta terhadap Papua ialah menganggap orang Papua tidak berguna. Jadi begitu yang saya lihat.  Kayak menganggap orang Papua itu duri. Artinya, lebih pentingkan kekayaan emasnya, peraknya. Jadi mereka lebih pentingkan pengamanan investasi perusahaan-perusahaan ketimbang manusia yang ada,” pungkasnya. (gra/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *