Melihat Proses Perjalanan Klinik Robertus Dalam Membantu Melayani Kesehatan Masyarakat di Papua (Bag. 1)

Roberth Yewen/Cenderawasih Pos

Salah satu perawat sekaligus Analis, Novi, ketika memeriksa darah dari salah satu pasien yang datang berobat di Klinik Robertus Hawai Sentani, Rabu (18/7) kemarin.

Awalnya hanya Melayani Anak Panti, Kini Masyarakat Secara Umum yang Banyak Berobat

Klinik Robertus selama ini telah melayani anak-anak panti asuhan, namun kini wilayah pelayanannya berkembang  sampai melayani masyarakat umum.   Bagaimana eksistensi pelayanan di Klinik Robertus?

Laporan: Roberth Yewen-Sentani

Ada beberapa orang pasien sedang duduk di kursi sambil antre bergantian untuk menunggu pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter dan suster di Klinik Robertus Hawai Sentani.

Di loket pendaftaran sendiri terlihat tiga orang siswa SMK Perawatan yang setia menanti untuk mendaftarkan para pasien yang datang berobat di sore hari. Di sebelah ruangan lain terdapat dokter dan suster, salah satunya dokter Maria Carolina yang sedang memeriksa para pasien.

Itulah aktivitas yang tergambar dalam pelayanan kesehatan di Klinik Robertus yang buka setiap Senin-Kamis pukul 16.00-20.00 WIT. Klinik ini sendiri tak jauh dari panti asuhan Putri Kerahamiman Hawai dan merupa­kan klinik di bawah Yayasan Putri Kerahiman Papua (Yapukepa).

Direktur Klinik Robertus, dr. Maria Carolina, mengatakan bahwa poliklinik ini sudah didirikan sejak tahun 1991 oleh salah satu suster biara yang pernah melayani di Jaya­pura. Berdirinya klinik ini karena suster biara ini merasa kasihan melihat anak-anak di panti asuhan yang sering sakit, sehingga tergeraklah hatinya untuk membuka klinik, guna melayani anak-anak Papua di panti asuhan yang ada di Sentani.

”Ada pilot namanya Robertus dari Belanda karena tergerak hati melihat pelayanan dari suster bia­ra ini, sehingga pilot Robertus lalu mendirikan bangunan untuk dijadikan sebagai klinik, sehingga klinik ini dinamakan Klinik Robertus,” jelasnya saat ditemui Cenderawasih Pos di ruang kerjanya di Klinik Robertus Hawai Sentani, Rabu (18/7) kemarin sore.

Selama klinik ini berdiri sama sekali tidak ada sumber daya manusia (SDM), terutama di bidang kesehatan yang melayani setiap harinya, sehingga hampir 10 tahun klinik ini hanya dibantu oleh para medis dari RS Dian Harapan dan itupun hanya melayani anak-anak panti asuhan dua minggu sekali.

Dokter Maria sendiri yang merupakan Direktur di Klinik Robertus yang beberapa minggu lalu dilantik secara resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg. Aloysius Giay. Dokter Maria sendiri baru  menyeselesaikan profesi dokternya pada tahun 2014 yang lalu dan setelah itu di tahun 2016 barulah melayani sebagai dokter di Klinik Robertus.

”Setelah saya masuk barulah kita urus izin operasional dan setelah izinnya ke­luar barulah kita melayani masyarakat secara umum yang datang dari luar,” ucap alumni Fakultas Kedokteran dari Universitas Kristen Maranatha Bandung ini.

Dokter Maria sendiri merasa selama menjadi dokter di Klinik Robertus sebenarnya tidak ada beban yang dirasakan, tetapi semua pelayanan kesehatan yang diberikan dengan penuh cinta kasih, karena menjadi dokter baginya merupakan tugas pelayanan dan pengabdian yang harus dijalankan dalam melayani masyarakat di klinik ini. ”Sebenarnya tidak ada duka, karena lebih banyak suka di mana bisa melayani masyarakat melalui klinik ini,” ucap dokter kelahiran Sentani 24 Oktober 1988 ini.

Dalam sehari klinik ini melayani kurang lebih belasan pasien setiap harinya dan semua pasien rata-rata merupakan masyarakat dari luar, sedangkan untuk anak-anak di panti asuhan lebih sedikit yang datang berobat, karena rata-rata semuanya sehat.

Maria menyatakan pihaknya membuka pelayanan di Klinik Robertus mulai dari jam 16.00-20.00 WIT . Klinik ini sendiri dibuka praktek secara umum setiap hari Senin-Kamis, sedangkan hari Jumat khusus untuk melakukan penyuluhan dan pengobatan bagi anak-anak panti asuhan Hawai maupun panti asuhan Polomo.

”Jadi setiap hari kita melayani belasan pasien, sehingga dalam seminggu kita bisa melayani 50 pasien di Klinik Robertus. Kebanyakan pasien yang datang merupakan masyarakat dari luar dibandingkan anak-anak di panti,” ujarnya. (bersambung/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *