Dishut Amankan Penebang Liar

Erik/Cepos
Dishut Papua saat mengamankan mobil pikap bermuatan kayu yang diduga hasil penebangan liar, di perumahan Kampung Buton Skyland, Selasa (17/7) kemarin.

JAYAPURA-Dinas Kehutanan Provinsi Papua mengamankan  mobil pikap berisikan kayu hasil penebangan liar dari kawasan cagar alam Pegunungan Cyclop Jayapura, Selasa (17/7). Mobil pikap beserta pemilik kayu diamankan anggota polisi kehutanan (Polhut) dan digiring langsung ke Kantor Dinas Kehutanan Provinsi Papua.

Kepala Bidang Perlindungan Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Papua, Yan Pugu mengatakan bahwa pemilik kayu tidak  memiliki surat angkutan kayu yang sah. “Barang bukti berupa kayu 25 batang jenis kayu besi yang telah dijadikan balok dengan berbagai ukuran sementara kita tahan dan akan proses sesuai undang-undang yang berlaku,” ujar Pugu kepada wartawan di ruang kerjanya.

Dikatakan, penangkapan ini berdasarkan informasi dari masyarakat bahwa ada penebangan kayu di kawasan cagar alam pegunungan Cyclop, tepatnya di belakang Kampung Buton, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura.

Menyikapi informasi tersebut, pihaknya membentuk tim dan melakukan survei ke tempat penebangan kayu. “Kita sudah beberapa kali pergi ke tempat penebangan, tetapi tidak menemukan pemiliknya, setelah kami mendapat informasi hari ini (kemarin-red) kayunya mau diangkut, maka kita langsung turun ke lapangan melakukan penangkapan,”ujarnya.

Pugu menjelaskan,  sesuai dengan undang-undang (UU) Nomor 18 tahun 2013, yakni setiap orang dilarang melakukan penebangan tanpa izin dan ada sanksi berupa hukuman 1 hingga 5 tahun penjara dan denda Rp 2,5 miliar.

Pihaknya mengaku akan terus melakukan pengawasan terhadap hutan Cyclop, sebab hutan Cyclop sangat besar kontribusi kepada masyarakat di Kabupaten/Kota Jayapura. “Kita harus menjaga pegunungan Cyclop guna mengatasi krisis air di wilayah Jayapura. Karena masyarakat kini mulai mengeluh dengan debit air yang mulai menurun,” ungkapnya.

Pugu menambahkan, beberapa waktu lalu, pihaknya juga mengamankan jenis kayu soang maupun kayu-kayu hasil operasi yang dilakukan Dinas Kehutanan Provinsi Papua dan instansi terkait.

Ia mengatakan,  Dinas Kehutanan bersama beberapa pihak terkait akan terus melakukan operasi di Kabupaten/Kota Jayapura. “Tim operasi secara rutin turun,  operasi gabungan bersama Balai Besar KSDA, SPORS, Satpol PP juga LSM-LSM dan masyarakat mitra Polhut,” ujarnya.

Dengan cara begitu, kata Pugu, diharapkan pembuat arang dari kayu soang akan berhenti karena tidak ada lagi pembeli. “Para pengusaha ikan bakar dan sate diminta  menggunakan arang tempurung atau bahan baku lain, sehingga tidak menggunakan kayu soang,”  tutup Pugu. (eri/tri).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *