Melihat Eksistensi Komunitas Stand Up Comedy Jayapura Dalam Menyinggung Isu Kekinian

Gamel/Cepos
PUBLIC SPEAKING – Salah satu sesi yang dimainkan tiga komika dalam performnya di Cafe Rooftop, Abepura pekan kemarin. Para komika menyinggung isu kekinian yang dikemas dengan joke-joke.

Dari Bowo Tiktokers Hingga Setrika Dalam Festival Budaya  Ikut Disinggung

Kota Jayapura patut berbangga, berbagai komunitas perlahan tumbuh dan terus berkembang. Salah satunya, Komunitas Stand Up Comedy yang tak hanya menghibur tetapi juga mengkritisi dengan cara humor.

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura

Panggung kecil di lantai 2 dengan cahaya yang terbilang cukup redup, ditambah dengan background yang hanya ditutupi sebuah baliho yang terlihat sengaja di balik plus jejeran kursi penonton yang diposisikan di bawah tenda menunjukkan konsep panggung yang sederhana namun tetap bisa menyampaikan pesan. Tak lama setelah MC membuka dan menjelaskan soal agenda tersebut, barulah satu persatu anak muda secara bergantian menaiki panggung.

   Acara malam itu adalah Stand Up Night dengan tema Harapan Bangsa. Acara yang kalau disederhanakan bahasa awam di Papua menjadi cerita Mob (joke), namun ini karena dikemas lebih modern dan kreatif sehingga kini dikenal sebagai hiburan public speaking.

  Jayapura sendiri memiliki komunitas Stand Up Comedy. Komunitas yang memberi hiburan dengan cerita-cerita yang dirancang sedemikian rupa dan sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Stand Up Night pada Kamis malam (12/7) ini melibatkan enam komika asal Jayapura, salah satunya adalah Yewen, komika yang sering manggung di sejumlah stasiun Tv.

   Ketua Stand Up Indo Jayapura, Ronal Alfi Al Zayn menjelaskan bahwa tema saat  open mic kemarin adalah Harapan Bangsa, yang isinya menjelaskan ke publik melihat secara cerdas upaya yang dilakukan seseorang untuk mencapai cita-citanya. Yang jelas tak ada yang instan. Flyer yang dipublikasikan juga bergambar komika Yewen disandingkan dengan Tiktokers Bowo.    Secara tidak langsung flyer tersebut menjelaskan bagaimana upaya anak Papua bernama Yewen yang harus dari bawah dengan waktu bertahun-tahun untuk bisa meraih kesuksesan.

   Sementara sosok di sebelahnya membutuhkan waktu hanya beberapa hari untuk booming cukup dengan bermain Tiktok. Tiktok sendiri akhirnya dihentikan pemerintah karena dianggap lebih banyak mempertontonkan sesuatu yang sifatnya tak mendidik.

  “Kami coba menyentuh isu kekinian dengan cara kami. Berbicara dan tetap menghibur, silahkan publik atau penonton menilai sendiri,” kata Ronal melalui pesan Whatsappnya.

  Tujuan open mic sendiri untuk memperkenalkan seni stand up comedy lebih dekat kepada masyarakat.

   Selain itu Open Mic dijadikan pertunjukan untuk para komika-komika pemula atau yang baru mencoba untuk memperbanyak jam terbang. Para Komika Jayapura juga menyinggung soal Bowo Tiktokers yang terlalu direspon lebay oleh fansnya. Bowo bahkan dianggap sebagai “Tuhan” dan banyak yang menjadi “pengikut” sehingga dianggap banyak yang disalahgunakan.   

   “Tiktok sebenarnya tidak salah, yang salah itu kameranya. Bayangkan jika kuli bangunan atau dokter saat bedah kecanduan bermain tiktok. Bisa – bisa banyak bangunan yang rubuh termasuk nyawa pasien yang tak selamat,” sindir Zulkifli, salah satu komika dalam performnya.

    Di sini juga ditegaskan bahwa jika semua anak muda mencandui aplikasi Tiktok maka jangan harap akan menjadi pemuda harapan bangsa. Jika ingin sukses maka harus dimulai dari bawah, mendapatkan banyak halangan agar memahami bagaimana menjadi besar dan bermanfaat bagi bangsa.

   Lanjut Ronal dari materi yang dibawakan komika bisa menjadi ujian bagaimana membuat orang tertawa. Jika gagal maka ada materi yang harus diperbaiki. Alumni SMK N 3 Jayapura ini mengatakan yang menjadi tantangan bagi seorang komika adalah bagaimana menumbuhkan rasa percaya diri untuk maju berdiri di atas panggung lalu berbicara kepada orang banyak.

   “Kalo untuk materi stand up-nya sih tidak terlalu menyulitkan karena tahap tahap pembuatannya bisa dipelajari dengan mudah secara perlahan,” katanya.

  Hanya saja diakui bahwa untuk ruang berekspresi di Kota Jayapura masih terbilang minim. Para Komika menganggap bahwa untuk open mic, tempat yang dianggap layak hanya Cafe Revolution atau Roftop di Abepura. “Iya hanya cafe ini yang kami anggap layak, semoga ada tempat lain yang bisa digunakan nantinya,” harapnya. Materi yang dibawakan kemarin juga beragam. Ada sesi dimana tiga komika diminta naik bersama lalu saling berkomunikasi.

   Hanya saja di sini ada yang berposisi sebagai director, jadi director ini yang mengarahkan komika untuk perform sesuai perintah. Ini termasuk sesi yang hiburannya pecah karena baik Yewen, Ronal dan Kiki diminta untuk menggunakan berbagai macam bahasa daerah. Termasuk bahasa Thailand.

  Alhasil dengan bahasa yang tak beraturan semua dilontarkan sehingga membuat penonton semakin bingung. Dalam performnya, Yewen juga menyinggung soal cerita ia ngekos di Jatinegara, Jakarta Timur yang bersebelahan dengan Lapas Cipinang.

  Dalam jokenya ia mengingatkan agar anak-anak Papua jangan pernah mencari kos di sekitar Lapas. “Itu memprihatinkan. Untuk mencari makan saja sulit, bayangkan saya pernah pesan makan di warung tapi tidak dilayani. Saya dikira penghuni dari dalam (Lapas) yang kabur,” ujar Yewen yang disambut riuh tawa.

   Ia juga menyinggung soal acara festival budaya yang diikuti komika ternyata memberi hadiah setrika maupun dispenser. “Ini tidak pas sekali, acara budaya tapi hadiahnya setrika. Kenapa bukan uang pembinaan sekalian,” sindir Yewen.

   Mahasiswa Fakultas Tehnik Uncen ini juga memainkan materi soal sayur kangkung yang di Amerika mulai dilarang karena dianggap memiliki kandungan yang mirip ganja. Ia mengandaikan jika benar kangkung dilarang termasuk di Indonesia dan Papua, bagaimana nasib anak-anak kos yang kebanyakan justru hidup dan bertahan dengan sayur  sejuta umat ini.    “Sekarang bayangkan jika kangkung harus dijual seperti ganja. Mama-mama di Pasar Youtefa melakukan nego diam-diam dengan pembeli yang akhirnya ada variasi pilihan barang. Mau kangkung murni atau kangkung campur. Setelah ditanya ternyata kangkung campur adalah dicampur dengan  bunga pepaya,” selorohnya.

   Para Komika sendiri memainkan sesi satu badan dengan tiga kepala yang disebut sosok Pakar. Ini juga dimainkan dalam acara Waktu Indonesia Timur (WIT) Di sini masing-masing komika harus menjawab satu kalimat yang dirangkai untuk menjawai sebuah pertanyaan. Hasilnya adalah hampir semuanya jawaban berantakan dan mengundang gelak tawa. Ronal berharap dari keberadaan komika di Jayapura ini bisa dimanfaatkan oleh siapa saja yang ingin dihibur.    

   “Silahkan jika ingin mengunakan jasa komika, kami siap,” katanya. Hanya diakui selera humor di Papua juga beragam. Ada yang suka tentang pesan politik,  cinta atau hal – hal yang absurd. “Perlahan-lahan kami terus meperkenalkan sehingga semua kalangan bisa menerima dengan baik potensi teman-teman komika,” imbuhnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *