1500 Calon Anggota KPU ikuti Tes Kejiwaan di RSJ Abepura

Takim/Cepos
Paulus Ronsumbre, SKep

Dari 1500 Peserta, 10 Persen Diragukan Kesehatan Jiwanya

JAYAPURA- Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura, sebagai satu-satunya rumah sakit yang menangani masalah kejiwaan di Papua, dibanjiri para calon anggota KPU, Bawaslu maupun bakal calon legislative (Bacaleg) yang mencari  surat keterangan kesehatan jiwa. Namun untuk mendekatkan pelayanan kepada peserta tes kesehatan jiwa yang mencapai ribuan, pihak RSJ Abepura pun akhirnya  mengambil kebijakan dengan menurunkan tenaga dokternya ke sejumlah kabupaten di Papua.

Kepala Seksi Pelayanan Medis Rumah Sakit Jiwa Abepura, Paulus Ronsumbre, S.Kep menggatakan bahwa sejauh ini RSJ Abepura sudah menangani  kurang lebih 1500 orang calon peserta yang akan mendaftar untuk menjadi baik KPU, Panwaslu maupun calon anggota legislative  untuk melakukan tes kejiwaan. Pelayanan tersebut dilakukan sejak habis lebaran pada 17 Juni lalu.

“Kami melakukan pelayanan tes kejiwaan sebagai salah satu syarat untuk menjadi anggota KPU, Panwaslu maupun anggota DPRD dan keperluan lainnya,”ujar Paulus ke Cenderawasih Pos saat ditemui di RSJ Abepura,  Jumat (13/7).

Dari 1500 peserta yang ikut melakukan tes kejiwaan tersebut terdapat 90%  memang  sudah di nyatakan lulus, namun  10% lainya masih diragukan kesehatan jiwannya. Artinya, masih ada beberapa catatan yang harus dilalui sesuai yang dianjurkan oleh dokter yang bersangkutan.

“Terdapat 10% dari data 1500 peserta yang tergabung dalam baik KPU, Panwaslu maupun Anggota DPRD yang masih diberikan catatan-catatan dari dokter,”ungkapnya.

Catatan ini diberikan   berdasarkan hasil psikotes yang dilakukan oleh dokter, ada yang yang kejiwaannya sangat parah, dan mungkin ada juga yang masih dinyatakan bisa sembuh. Ada juga yang kemungkinan saat melakukan tes, peserta akan diberikan resep atau anjuran dari pihak dokter yang bersangkutan.

Menurutnya jumlah yang 1500 peserta  tersebut merupakan jumlah keseluruhan dari gabungan baik KPU, Panwaslu maupun Anggota DPRD se-Provinsi Papua. Dan jumah yang didata tersebut merupakan jumlah sementara, karena proses pelayananya masih berlanjut.

“Sejauh ini kami belum bisa simpulkan data total keseluruhan, karena masih dilakukan pelayanan,”tuturnya.

Paulus mengatakan dari 10% jumlah peserta yang masih diberikan catatan bukan berarti dinyatakan tidak lulus, akan tetapi ada hal-hal yang harus dilakukan dan itu merupakan rahasia dokter dengan peserta tes kejiwaan.

“Bisa saja para peserta pada saat mau tes kejiwaan dalam kondisi drop atau ada tekanan atau juga masalah yang sangat berat yang membuat yang bersangkutan terguncang, maka hal tersebut juga akan mempengaruhi psikotes pada saat tes kejiwaan nantinya,” terangnya.

Pihaknya juga mengakui ada sebagian peserta yang merupakan mantan pasien Rumah Sakit Jiwa Abepura berdasarkan data yang ada dari pihak rumah sakit. Oleh karena itu, pihaknya dokter akan memeriksa secara intenstif, dengan menginterview  atau mencari tahu apakah keseharian peserta masih belum normal atau  sudah normal.

“Kalau ada peserta mantan pasien, kami akan mencari tahu sakit apa yang dialaminya dan apakah memungkinkan untuk sembuh dengan kurun waktu yang diketahui atau saat menjadi pasien RSJ Abepura,” lanjutnya.

Sejauh ini, pihak RSJ Abepura mengirim para dokter untuk melakukan tes tersebut terhadap calon peserta ke beberapa wilayah yakni, Nabire, Mappi, Biak dan Supiori guna untuk mempercepat waktu dan juga memudahkan para peserta tes.

“Untuk memudahkan para peserta kami akan melakukan sistem jemput bola, terutama daerah yang susah dijangkau dan akses yang kurang,”katanya.

Lanjut paulus, sementara untuk tarif tes kejiwaan para calon peserta akan dikenakan biaya Rp. 500 ribu sesuai dengan Perda.(kim/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *