Polda dan Kodam Bantah Ada Penyerangan di Nduga

Kombes Pol AM Kamal Saat memperlihatkan gambar Hoax terkait dengan pembakaran di Kenyam, Kabupaten Nduga.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal mengklaim tidak benar adanya pembordiran ataupun pembakaran di Distrik Kenyam Kabupaten Nduga yang dilakukan oleh aparat Kepolisian.
Yang ada kata Kamal, sekitar pukul 11.17 Wit anggota mendrop bahan makanan di beberapa titik di Kabupaten Nduga dan dilakukan penembakan dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

“Keberadaan Helikopter Polisi di sana untuk mengirim bahan makanan di beberapa pos pengamanan yang ada di Kabupaten Nduga, ini bukan heli tempur melainkan heli untuk evakuasi dan mendrop makanan,” ungkap Kamal kepada wartawan di Media Center Polda Papua Kamis (12/7) kemarin.

Terkait penembakan terhadap Helikopter yang mendistribusikan bahan makanan, Kamal mengaku pelakunya sedang diburu dan dipastikan akan menangkap kelompok pimpinan Elginus tersebut.

“Sampai saat ini kami belum menerima laporan adanya masyarakat yang luka-luka, termasuk dengan pengungsian. Jika terjadi sesuatu kami minta agar masyarakat segera merapat kepada aparat Kepolisian yang ada di Nduga,” kata Kamal.

Kehadiran polisi di Kabupaten Nduga kata Kamal dalam rangka menegakan hukum, sebab kejadian penembakan pesawat pada tanggal 22 Juni dan 25 Juni eskalasi di Kabupaten Nduga meningkat.
Kamal juga menuturkan, kejadian di Kenyam korbannya bukan hanya Polisi melainkan juga warga sipil sebagaimana 1 anggota polisi luka tembakan.

“Kita diprovokasi dengan situasi yang ada di sana, saya yakin masyarakat Nduga mengiginkan ketenangan dan kenyamanan,” beber Kamal.
Menurut Kamal, informasi yang disebarluaskan di media sosial merupakan berita Hoax. Berita yang memprovokatif masyarakat dan menjadikan masyarakat was-was,” terangnya.

Terkait dengan adanya iformasi kebakaran, Kamal mengaku itu gambar yang terjadi di Kalimantan beberapa tahun silam. Termasuk tidak ada penembakan yang dilakukan personilnya dari arah atas.

“Saya pastikan berita yang beredar di media sosial terkait pembakaran hutan itu berita bohong alias hoax, jika mendapat informasi seharusnya dicek dulu kebenarannya kepada yang berkompoten. Jangan sebatas terima lalu disebar luaskan karena ini bakal menimbulkan keresahan kepada masyarakat,” ungkap Kamal.

Terkait dengan pengamanan di Kenyam sendiri, sebanyak 1 SSK personil suah berada di Nduga pasca penembakan yang terjadi pada 22 Juni dan 25 Juni. Dimana kehadiran anggota Brimob guna memberikan perlindungan kepada masyarakat.
Terkait yang menyebarluaskan informasi, Kamal mengaku sedang diselidiki dan akan diproses sebagaimana membuat masyarakat resah.

Sementara itu, Kapendam XVII/Cenderawasi Kolonel Inf Muhammad Aidi tentang isu serangan udara oleh pasukan gabungan TNI-Polri di Nduga mengaku hingga saat ini belum ada pergerakan pasukan TNI untuk mengejar Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) di Nduga baik dari darat maupun lewat udara.

Dikatakan, hingga saat ini alutsista TNI khususnya pesawat udara baik Hellycopter maupun pesawat sayap tetap belum pernah digunakan untuk melaksanakan serbuan di Papua. Sejauh ini alutsista TNI hanya digunakan untuk pendorongan logistik termasuk mendukung Pemda dan membantu Masyarakat mengatasi kesulitan rakyat khususnya dalam hal saran angkut.

Menurut Aidi, status politik dan eskalasi ancaman di Papua adalah tertib sipil sama dengan yang berlaku di daerah lain di seluruh wilayah Indonesia, artinya penegakan hukum masih mengedepankan tindakan Polisionir.

“Nyatanya TNI-Polri jatuh korban di Kabupaten Puncak beberapa waktu yang lalu baik korban jiwa maupun luka-luka kami berbelasungkawa tetapi tidak ada ribut-ribut, masyarakat sipil yang tak berdosa jadi korban pembantaian, pesawat angkutan masyarakat yang sangat dibutuhkan rakyat untuk memenuhi kebutuhan pokoknya di pedalaman mereka tembaki, kalau aparat keamanan melaksanakan penindakan hukum kok mereka langsung teriak-teriak,” beber Aidi sebagaimana rilis yang diterima Cenderawasih Pos pada Kamis (12/7).

Demi tegaknya hukum dan kedaulatan Negara, tentunya aparat keamanan akan tetap melaksanakan pengejaran dalam rangka penegakan hukum terhadap KKSB. Sekelompok orang mengangkat senjata secara illegal tidak pernah dibenarkan dalam aturan hukum manapun, termasuk upaya perlawanan terhadap kedaulatan Negara tidak akan pernah ditolerir.

Namun lanjut Aidi, mekanismenya tentunya aparat keamanan akan mematuhi dan menjunjung tinggi hukum dan Perundang-undangan yang berlaku. Beda dengan pihak KKSB, mereka adalah gerombolan tidak mengenal norma, hukum dan aturan. Tidak mengenal combatan dan non combatan, bahkan anak kecilpun mereka bantai.

“Penindakan hukum oleh aparat keamanan ditujukan terhadap KKSB yang nyata-nyata telah mengangkat senjata secara Illegal, melakukan perlawanan dan merongrong kedaulatan Negara, melaksanakan terror terhadap rakyat sipil tak berdosa hingga pembantaian yang tidak berperikemanusiaan. Yang dilakukan aparat keamanan adalah pengamanan pemukiman, mengamankan dan melindungi Rakyat, dan penegakan serta penindakan hukum, bukan menyerang Rakyat,” tegasnya.

Dirinya menghimbau agar rakyat tidak perlu takut kepada aparat keamanan TNI-Polri dan jangan lari masuk ke hutan, tetaplah berdiam di pemukiman atau di kota, terutama di daerah yang ada aparat keamanannya, maka TNI-Polri akan menjamin keamanan rakyat. (fia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *