Mikhael Yusak, Sculptor Action Figure Go International

FOTO: Fajrus Shiddiq/Radar Malang

TEMBUS INTERNASIONAL: Mikhael Yusak menunjukkan salah satu karya andalannya Kamis (5/7).

 

Karakter Thanos dalam film Avengers: Infinity War menginspirasi Mikhael Yusak menjadi pengusaha yang go international. Itu karena miniatur action figure yang dia produksi diminati pembeli dari berbagai negara.

FAJRUS SHIDDIQ

Rumah kontrakan di Jalan Anila IV, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, itu tampak berantakan. Potongan beberapa tubuh miniatur action figure (patung mainan yang wujudnya menyerupai tokoh dalam komik) belum terpasang menjadi satu kesatuan. Di ruang kerja berukuran sekitar 3×6 meter itu, Mikhael Yusak menghabiskan waktunya sehari-hari. Mulai dari siang hingga malam.

”Bulan ini (Juli) kebetulan banyak orderan. Hampir setiap malam lembur,” ujar Mike–panggilan Mikhael Yusak, Kamis lalu (5/7).

Mike adalah sculptor (pemahat) miniatur action figure yang sudah go international. Produksinya sudah dipesan konsumen dari berbagai negara. Mulai negara tetangga seperti Singapura hingga negara terjauh seperti Amerika dan Kanada.

Di antara beberapa miniatur action figure yang dibuat, ada satu karakter yang sudah banyak dikenal pencinta komik. Yakni, Thanos, salah satu karakter dalam komik Captain Marvel. ”Yang ini (Thanos) sudah ditunggu pemesan,” kata Mike yang sudah mengawali bisnis sebagai sculptor karakter action figure sejak 2014 itu.

Bisnis yang digeluti anak pasangan almarhum Elia Sandi dan Lucia itu tidak lepas dari hobinya. Yakni, membaca komik. Ya, Mike kecil memang sudah terbiasa membaca komik DC dan Kapten Amerika.

Pria kelahiran Pekalongan, 12 Maret 1987, itu juga senang menggambar tokoh-tokoh yang dia baca. ”Biasanya kalau komik sudah habis saya baca, lalu digambar,” kata pria berusia 31 tahun tersebut.

Kegemarannya membaca komik mulai menurun ketika menjadi mahasiswa. Meski begitu, sarjana Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB) itu sering menonton film yang ceritanya disadur dari komik.

Ketika itu, tiba-tiba dia ingat masa kecilnya yang tidak menyenangkan. Sebagai anak dari keluarga kurang mampu, Mike tidak bisa memenuhi keinginannya. Di saat bocah-bocah seusianya dibelikan mainan oleh orang tuanya, Mike hanya melihatnya saja. Dia ingin sekali mempunyai mainan yang karakternya ada dalam komik yang pernah dia baca. ”Sejak kecil saya tidak pernah membeli mainan karena tidak punya uang,” katanya.

”Lalu saya pikir, kenapa tidak membuat mainan dari karakter komik saja?” tambah alumnus SMAN 3 Pekalongan tersebut.

Ya, nasib Mike kecil memang tidak seberuntung teman-temannya. Jangankan membeli mainan, membeli komik saja dia terpaksa menyisihkan uang jajannya. ”Selama sebulan menyisihkan jatah uang jajan, hanya cukup untuk membeli dua komik,” tutur anak kedua dari tiga bersaudara tersebut.

Kali pertama membuat action figure, Mike memilih bahan dari tepung. Selain bahannya murah, juga gampang diubah jika keliru. ”Saya mencoba menggambar-gambar dulu. Lalu, saya menirukan untuk membuatnya dengan menggunakan tepung,” katanya.

Bahan yang dia gunakan adalah tepung terigu, tapioka, tepung beras, dan lem putih. Bahan tersebut diaduk-aduk, lalu dibentuk. Jadilah replika patung mini menyerupai gambar yang dia buat.

Saat mainan tersebut sudah berbentuk, dia girang dan menyimpannya hingga saat ini. Sejak itu pula dia menyelami komunitas sculptor di Kota Malang. Dari sebuah grup Facebook, Mike kemudian bertemu banyak pencinta sculpting.

”Sejak itu pula saya mulai kenal bahan selain tepung. Saya kenal clay (tanah liat sintetis),” tuturnya.

Mulanya dia tidak intens menekuni dunia sculpting. Itu karena Mike disibukkan dengan usaha jual beli motor dan kayu palet. Dari hasil usahanya itu, pada 2014 dia mampu membeli rumah di kawasan Bandara Abdulrachman Saleh. Meski pembeliannya mengangsur, tapi itu tergolong bagus untuk pemuda berusia 26 tahun seperti dirinya.

Akhir 2014, perekonomian Mike goyah. Ayahnya meninggal dunia sehingga harus pulang ke Pekalongan. Karena butuh waktu beberapa hari di kampung halamannya, usaha jual beli motor miliknya dititipkan kepada rekan kerjanya.

Saat balik ke Malang, ternyata orang yang dia pasrahi mengurus usahanya hilang tanpa jejak. Mike sudah menghubungi rekan kerjanya itu, tapi tak ada kabar. Dia mencarinya juga tidak berhasil. Akhir 2014 itulah menjadi titik tolak dia harus menanggung banyak kerugian dan utang.

Dia menghitung, utangnya saat itu lebih dari Rp 80 juta. ”Terpaksa rumah saya jual, motor saya jual. Saya tidak punya apa-apa,” kata Mike.

Dia pun tidak tahu dan bingung harus ke mana. Meski begitu, dia berjanji tidak pulang ke Pekalongan sebelum sukses di perantauan. Akhirnya Mike menjadi ”gelandangan” di Kota Malang, hingga dia bertemu teman lamanya di kawasan Splendid.

”Saya berterima kasih kepada Pak Suryo (temannya) yang menampung saya di warungnya,” kata Mike yang tidak lupa dengan orang yang berjasa menampungnya.

Kala itu, dia melihat temannya menjadi pelukis jalanan. Lalu, dia sadar jika bakat sculpting juga dia miliki. Di rumah sekaligus warung Pak Suryo itu, dia mulai merintis pembuatan action figure. Dengan telaten dia melakukan mastering; sculpting manual dengan clay, molding; membuat cetakan dari silikon rubber, lalu mengecatnya dengan fiber glass.

Untuk membuat itu, dia merogoh kocek sekitar Rp 500 ribu. ”Saya mengumpulkan uang dari hasil menjual botol bekas. Saat itu juga masih punya sisa tabungan Rp 250 ribu,” paparnya.(*/c2/dan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *