Belum Terbayar, Alasan Ondoafi Gantung Lokasi  Expo

Gamel/Cepos
Ramses Ohee

JAYAPURA – Lokasi Expo Waena yang sebelumnya menjadi lokasi berkumpulnya pameran seni dan budaya Papua dan menjadi acara tahunan yang paling ditunggu masyarakat, hingga kini tak lagi beroperasi dan banyak bangunan yang ada di dalamnya terbiar mangkrak, rusak dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak memiliki tempat tinggal. Tercatat sekitar tahun 1998 lokasi  seluas 12 Ha ini, bukan tanpa alasan tak digunakan lagi.

   Persoalan pembayaran lokasi ternyata menjadi satu hal yang belum tuntas. Selain itu pemerintah nampaknya tak lagi serius menggarap event Expo, sehingga banyak bangunan rusak begitu saja. Terkait ini pemilik hak ulayat lokasi Expo, Ramses Ohee membenarkan bahwa sejak dibangun lalu digunakan ternyata Expo belum terbayarkan. Ondoafi Waena ini menyebut hingga kini belum ada pelepasan dan pembayaran hak atas tanah tersebut.

  Ramses mengaku sudah berkali-kali melakukan rapat di kantor gubernur, namun Gubernur ketika itu menyampaikan untuk untuk berdiskusi di kantor distrik. Ini juga sudah pernah dilakukan, tapi tak ada hasil. “Ketika itu tahun 1982, Pak Barnabas (mantan Gubernur) sampaikan bahwa ia ingin membuat Taman Mini seperti di Jakarta, semua kebudayaan akan ditampilkan di situ dan saya katakan saya sudah lihat taman mini tahun 1969 saat ibu Soeharto yang menggarap, tapi sampai Barnabas berangkat dan pindah tugas ternyata tak selesai juga, tapi proses pembangunan tetap dilakukan,” tuturnya.

  Ramses membenarkan bahwa ketika ingin menggunakan lokasi Expo memang tak ada pembicaraan soal uang. Padahal sebelumnya ada proses pemindahan masyarakat kampung. “Expo itu dulu  kampung dan saya memindahkan 30 kepala keluarga ke lokasi di Waena kampung sekarang. Dulunya mereka tinggal di Expo dan pemerintah saat itu hanya menyiapkan bangunan yang dinilai seharga Rp 800 ribu/bangunan,” bebernya. “Saya ketika itu memang meminta dibangun rumah darurat agar masyarakat saya bisa tinggal dan dibuatkan sangat sederhana,” imbuhnya.

   Ramses sendiri masih menuntut haknya. Ia mengatakan memberi harga untuk lokasi seluas 15 Ha  tersebut dengan angka Rp Rp 30 miliar. “Saya meminta segitu (Rp 30 miliar) karena saya bongkar kampung. Sebenarnya saya juga bisa menuntut 25 tahun biaya sewa, tapi itu nanti karena semua hasil diskusi dan rapat ada pada saya. Lokasi 30 Ha ini mulai dari museum hingga expo dan sampai ke lokasi gelanggang. Selama ini saya diam, tapi bukan berati saya tidak menuntut hak tapi saya menunggu respon pemerintah meski saat ini ada bangunan pemerintah yang berdiri di atas lokasi tanah yang bukan miliknya,” sindir Ramses. (ade/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *