Dokter Aborsi Dilimpahkan ke Kejaksaan

Tersangka Aborsi, berinisial YA yang membayar dokter BO untuk melakukan aborsi

JAYAPURA – Proses penyidikan terkait kasus percobaan aborsi yang melibatkan seorang dokter berisinial BO dan pelaku lainnya berinisial YA dan YV, Rabu (4/7) kemarin rampung. Ketiga pelaku ini saat itu juga dilimpahkan ke Kejaksaan untuk kelanjutan proses hukumnya.  Untuk pelaku YA sendiri merupakan pasien BO yang hendak melakukan aborsi, sedangkan YV adalah asisten BO yang ikut membantu dilakukannya praktek aborsi.

  Meski sejak awal kasus ini terkesan tertutup, namun Polisi tetap merampungkan penyidikannya. Pasal yang disangkakan juga berbeda dimana untuk BO dijerat dengan pasal 194 jo pasal 75 ayat (1) dan (2) undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman maksimal 10 tahun, begitu juga dengan tersangka YA. Sedangkan YV dijerat pasal 194 jo pasal 75 ayat (1) dan ayat (2) undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan jo pasal 55 KUHP.

  Kasus ini kata Kapolsek Abepura, AKP Dionisius Helan SIK telah dilimpahkan beserta ketiga tersangkanya termasuk sejumlah barang bukti. “Ada banyak barang bukti seperti tiga batang Laminaria yang sudah terpakai, 8 tablet gastrul, 13 batang laminaria yang belum digunakan, 1 surat izin praktek yang tak berlaku, 1 surat teguran dari Dinas Kesehatan Kota Jayapura, 13 identitas pasien yang pernah berobat, 1 kursi alat bersalin, 1 buku penjualan obat luar, 1 buku penjualan obat dalam dan beberapa peralatan pendukung lainnya.

  Kasus dokter BO sendiri, terungkap pada 1 Maret 2018 sekira pukul 08.00 WIT di depan Apotek Dewi Jl Gerilyawan, Abepura. Dimana YA, kembali ke Apotik Dewi untuk bertemu dokter BO guna menjalani proses pengeluaran bayi. Namun karena saat itu apotek tersebut tutup, akhirnya YA yang berstatus mahasiswi ini memilih menunggu di depan ruko jejeran Apotek Dewi. Diduga pengaruh obat atau alat untuk aborsi bekerja kuat, akhirnya YA melahirkan di pinggiran halaman ruko dan bayi tersebut sempat terjatuh.

  Terkait hal ini, setelah ditelusuri penyidik, akhirnya diketahui bahwa ada proses kelahiran yang tak biasa. Pelaku YA melahirkan karena gagal melakukan aborsi. “Jadi yang kami serahkan tadi, selain dokternya ada juga asistennya termasuk YA yang melahirkan,” kata Kapolsek. Informasi yang diterima, Dokter BO sendiri sejatinya pernah terjerat dengan kasus serupa di tahun 90-an ketika membuka praktek di Abepura.

   Dari kasus pertamanya ini, informasi lain menyebut jika izin praktek BO telah dicabut. Namun anehnya, BO masih bisa melakukan praktek dengan sembunyi-sembunyi hingga Polisi menemukan dokumen soal 13 pasien sebelumnya yang disinyalir juga melakukan aborsi di apotek ini.

  “Silahkan publik dan media mengawal kasus ini, kemarin memang tidak terlalu terekspos karena kami masih menghargai IDI (Ikatan Dokter Indonesia), tapi kasusnya tetap kami rampungkan  dan ini buktinya,” imbuhnya. Ia juga berharap publik bisa ikut memantau proses persidangan untuk memastikan jika hukum benar-benar ditegakkan. (ade/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *