Tri Pilar harus Mampu Mendeteksi Terorisme

ARAHAN: Kapolda Papua, Irjen Pol. Drs. Boy Rafli Amar, MH., ketika memberikan arah di Grand ABE Hotel, Jumat (8/6) pekan kemarin. Kapolda Boy Rafli meminta tri pilar saling bersinergi menangkal lahirnya terorisme.

JAYAPURA-Tak ingin kecolongan seperti Kota Surabaya dan Pekanbaru, Kapolda Papua, Irjen Pol. Drs. Boy Rafli Amar, MH., mengingatkan kembali kepada perangkat keamanan dan pemerintahan di Papua untuk ekstra peduli.

Mantan kadiv Humas Polri ini mengingatkan semua komponen untuk tidak tingal diam ketika ada orang baru yang akhirnya menimbulkan banyak kerugian sosial. Semua perlu peduli yang dimulai dengan mendeteksi.

Hal ini disampaikan Kapolda Boy Rafli menyusul kondisi beberapa minggu terakhir yang ramai dengan aksi terorisme. “Jika ada warga pendatang baru di Kampung, jangan dibiarkan sebab baik RT/RW maupun kepala kampung memiliki tanggungjawab yang sama. Kepala Kampung harus saling berkoordinasi dengan Babinsa atau Bhabinkamtibmas,” kata Boy Rafli di Grand ABE Hotel, pekan kemarin.

Tiga komponen ini baik Kepala Kampung, Bhabinkamtibmas dan Babinsa menurut Boy Rafli harus menjadi tri pilar untuk melakukan deteksi dini. Apalagi semua arahan ini sudah masuk dalam maklumat Kapolri yang perlu dijalankan hingga ke pemerintahan tingkat bawah.

“Jadi Polri meminta masyarakat mengaktifkan Siskamling dan mewajibkan warga baru melapor 1 x 24 jam. Jika ia orang Papua ditanyakan saja namun jika ia pendatang minta identitasnya sebab kemarin masih ditemukan di Timika indikasi itu (teroris, Red),” bebernya.

Lalu ke depan untuk menangkal ini menurut Boy Rafli semua harus peka dan jika bukan KTP Papua maka perlu dilakukan pendataan. Indonesia kata Boy adalah negara terbuka dan siapa saja boleh hadir namun untuk berbuat baik.

Ditambahkan, jika tujuannya menghancurkan, merusak kerukunan maka harus ditindak tegas. Jika bisa secara hukum maka itu perlu dilakukan namun langkah preventif adalah mencurigai dan memonitoring. “Patut dicurigai dan langsung dimonitoring, Tri pilar ini harus kompak dan memahami itu, jangan sampai terjadi hal-hal yang akhirnya mengganggu semuanya dan merugikan kondisi sosial,” pungkasnya. (ade/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *