Selamat Setelah Berbaring Dalam Got

SYOK :Alung (13) salah satu pelajar SMPN 3 Jayapura hanya terduduk diam sesekali melihat bekas lukanya usai selamat setelah terseret arus di dalam drainase di Polimak pada Kamis (7/6) kemarin. Alung terlihat masih syok saat ditemui Jumat (8/6).

Mendengar Cerita Alung, Pelajar yang Selamat Setelah Terseret Arus Ratusan Meter dalam Drainase

Namanya musibah tidak ada yang pernah menduga akan terjadi kapan dan dimana. Namun dibalik setiap musibah pasti ada hikmah. Alung, pelajar SMPN 3 Jayapura berhasil selamat setelah terbawa arus drainase, Kamis (7/6) kemarin

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura

Hanya terduduk diam di atas sebuah kasur dekil yang warnanya mulai kecoklatan. Ditemani sang adik dan nenek yang terus menerus mengamati apa yang dilakukan sang cucu ini. Di dalam rumah berukuran 3 x 10 meter ini sesekali wajah polos tersebut menatap ke TV dengan tetap memperhatikan lukanya.

Bekas obat cair juga masih terlihat terang di tas kulit coklatnya. Alung, pelajar SMPN 3 Jayapura ini tak banyak berbicara saat ditemui di kediamannya di Kompleks Menara Jaya.

Saat itu ia tak ditemani kedua orang tuanya karena sedang bekerja. Ia hanya duduk dengan sesekali melihat bekas luka yang dirasa masih perih. Untungnya kaos dan celana yang digunakan juga tak ketat sehingga ia bisa leluasa bergerak.

Keluarganya bersyukur karena sang anak bisa selamat meski mengalami banyak luka. Sang nenek sempat menceritakan bahwa saat itu keluarga sempat cemas dan tak percaya jika sang cucunya yang terkena musibah.

Setelah mendengar cerita langsung, sang nenek bersyukur jika Alung selamat. “Hanya tidak menyangka dan kami sempat berpikir jika sejauh itu terbawa arus dan masuk ke dalam selokan yang tertutup bagian atasnya ternyata cucu saya bisa selamat, kami bersyukur sekali,” jelas sang nenek saat ditemui, Jumat (8/7) kemarin.

Alung sendiri merupakan  seorang pelajar yang pada Kamis (7/6) kemarin sempat terseret arus di Polimak hingga ditemukan tak jauh dari Kantor BPJS Ketenagakerjaan di Bucend II Entrop.

Wanita asal Pati Jawa Tengah ini mengaku tak ada firasat apa-apa dari kejadian ini karena sang cucu sudah biasa pulang sekolah sendiri dengan berjalan kaki. “Itu coba lihat banyak sekali lukanya. Pakaian seragamnya juga sobek-sobek termasuk tasnya. Tapi kami bersyukur Alung bisa selamat,” katanya.

Sang ibu bernama Wati menurut nenek dengan 10 cucu ini kesehariannya bekerja sebagai tukang ojek. Hanya yang diantar adalah anak-anak sekolah. Sementara sang suami bekerja sebagai sopir. “Ya begini saja, hidup pas-pasan. Saya kadang mengingatkan ibunya untuk tidak usah terlalu lama di luar tapi kadang sampai malam masih bekerja,” beber sang nenek.

Tak lama saat tengah ngobrol ini ternyata sang ibu pulang dan ikut menceritakan semua. Dengan mata sedikit berkaca-kaca ia tak henti mengucap syukur karena sang anak bisa selamat.

“Saya memang sempat bilang agar jangan pulang dulu sebelum dijemput tapi anak ini (Alung) ternyata memilih tetap pulang dengan berjalan kaki. Saya tidak tahu jika ia pulang hujan-hujan,” katanya.

Saat Alung diantar pulang oleh dua pengendara motor, sang ibu sempat menangis dan tak menyangka jika anaknya terkena musibah. “Itu lihat, pakaiannya sampai sobek-sobek dan itu anak sempat muntah – muntah saat dibawa ke Puskesmas karena banyak minum air saat terbawa arus,” ceritanya.

Sang ibu lantas mengumpulkan semua seragam sekolahnya baik tas, baju dan celana dan langsung dibuang ke laut. Ia berharap sang anak tidak lagi terkena musibah. “Saya membayangkan itu kejadiannya seperti apa, anak saya terguling-guling terbawa arus dan masuk ke dalam saluran air yang kotor dan ada juga saluran yang tertutup beton di atasnya. Saya membayangkan ia di dalam seperti apa,” ujar Wati menyampaikan naluri keibuannya.

“Kalau terus terbawa air mungkin anak saya bisa meninggal karena ia sudah panik dan banyak minum air. Untungnya ia masih sadar. Lihat saja lukanya di kaki, tangan hingga belakang pinggang,” sambungnya.

Alung sendiri saat ditanya memang tak banyak berbicara. Ia hanya menjawab apa yang ditanyakan. Terlihat jelas jika dirinya syok dan tak percaya jika dirinya nyaris menjadi korban. Dari pengakuannya awalnya ia tidak menyangka bisa terperosok masuk ke dalam saluran air berukuran besar ini.

Pasalnya, setiap hari ia melintas di lokasi yang sama dan selama itu tak ada kejadian seperti ini. “Pas jalan terpeleset rumput lalu jatuh ke dalam (drainase) ceritanya sembari kembali terdiam. “Langsung jatuh begitu saja, arusnya deras sekali. Saya sudah meminta tolong tapi tidak ada yang dengar,” ceritanya.

Alung sendiri bisa selamat karena berusaha untuk bisa tetap sadar dan ketika berada di bawah gorong-gorong depan Sekretariat DPW Gerindra Papua, ia mencoba menarik apapun yang bisa dipakai untuk menahan tubuhnya agar tak terseret namun arus ketika itu kencang sekali dan iapun pasrah. Yang dilakukan hanyalah mencoba menjaga agar kepalanya bisa tetap dipermukaan. “Saya baring saja dan ikut air membawa ke mana,” bebernya.

Jika dilihat dari lokasinya, Alung terbawa arus sekitar 300 meter dan sekujur tubuhnya luka karena baju, celana dan tas sekolahya sobek. Sang ibu sendiri telah membuang pakaian seragam sang anak. “Saya hanya bersyukur anak saya masih hidup dan semoga tidak ada kejadian serupa lagi,” pungkasnya.

Beberapa warga Buncend II mengaku arus di saluran drainase yang menjadi lokasi jatuhnya pelajar SMPN 3 Jayapura ini memang kencang. Bahkan beberapa tahun lalu pernah ada yang juga terseret. “Memang disitu (drainase) arusnya kencang sekali, bahaya. Dulu pernah ada juga yang terseret tapi untungnya selamat,” kata Gunawan melalui pesan singkatnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *