Frantinus Banyak Dapat Dukungan

Frantinus (tengah) didampingi beberapa mahasiswa asal Papua di Kalimantan Barat serta wartawan saat berfoto di Polres Pontianak Kota.

DPRP Bersurat Ke Presiden

JAYAPURA – Kasus ditahannya salah satu mahasiswa asal Papua atas nama Frantinus Nigiri saat berada di dalam pesawat akibat kalimat “Bom” saat akan pulang dari Pontianak ke Papua mendapat banyak perhatian dan simpati. Tak hanya dari sesama mahasiswa di Kalimantan Barat tetapi juga para jurnalis di Kalbar termasuk Ketua Badan Pengawas Organisasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua, se Indonesia, Emus Gwijangge ST. Pria yang juga menjabat sebagai anggota DPR Papua ini sampai menulis surat kepada Presiden Jokowi.

“Dari kronologis yang kami terima, saat penumpang berdesak-desakan dan saat itu Frantinus meletakkan tasnya berisi 3 laptop di bawah tempat duduk. Lalu ada pramugari bertanya isi tas tersebut untuk diletakkan di atas. Karena menganggap agak kasar akhirnya muncul kalimat awas ada bom namun ini niatnya bercanda karena kesal melihat tasnya dipindahkan dengan kasar,” ujar Emus dalam rilisnya. Ia meminta Presiden bisa memberi perhatian dengan melihat kondisi mahasiswa Untan ini. “Saya melihat itu joke atau candaan biasa yang disampaikan Frantinus tapi dianggap serius,” jelasnya.

  Tak hanya dukungan dari anggota DPRP, ia juga mendapat dukungan dari sesama mahasiswa di Kalimantan Barat yang melakukan penggalangan tandatangan dengan tajuk aksi solidaritas peduli Frans. Lainnya, Emus juga menyampaikan bahwa sosialisasi undang-undang nomor 1 tahun 2009 tentang penerbangan belum pernah dilakukan sehingga minim yang tahu soal kalimat “Bom” ini tak boleh terucap di areal objek vital nasional terlebih bandara. Sementara dua rekan Frantinus, Leo Himan dan Junias Baye menyampaikan bahwa penumpang turun karena panik namun saat itu belum bisa dibuktikan apakah ada bom atau tidak.

“Hanya karena panik dan ketakutan akhirnya penumpang tarik pintu darurat. Kami harap hukum itu ditegakkan secara adil, jangan langsung tuding dia bersalah dan kami minta Pemda Papua bisa ikut mengadvokasi persoalan ini sebab ia anak Papua yang sudah selesai kuliah dan mau pulang,” kata Leo di Grand Abe Hotel. (ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *