Selesai Berdoa Bisa Nikmati Kolak Labu, Kwetiau, hingga Kopi

Warga mengantre untuk memberikan bingkisan kepada biksu di Pagoda Phasuk Maneechak, Pak Kret, Bangkok, Thailand, Selasa, 29 Mei 2018. FOTO: TOMY C. GUTOMO/JAWA POS

Merasakan Suasana Waisak di Thailand, Negeri yang 95 Persen Penduduknya Beragama Buddha (2-Habis)

Tradisi Waisak di Buddha adalah berdoa di wihara. Tak ada mudik atau saling berkunjung ke keluarga. Karena itu, kemarin, sejak pagi, warga Bangkok membanjiri tempat ibadah.

———————

SEJAK pukul 06.00, gerbang Wat (pagoda) Phasuk Maneechak di Pak Kret, Nonthaburi, Thailand, dibuka. Warga di sekitar kuil pun berduyun-duyun datang. Ada yang langsung menuju kuil utama, ada yang pergi ke sala atau auditorium, ada pula yang mendatangi ruang biksu untuk menyerahkan bingkisan maupun memberikan donasi.

Sebagian lain pergi ke lokasi penyimpanan abu jenazah untuk mendoakan leluhur masing-masing. ”Hari ini (kemarin, Red) ribuan orang datang untuk berdoa. Selalu seperti ini setiap Waisak,” kata Biksu Sangkarut Nuttadham Kosittadamamo.

Doa kemarin pagi di Wat Phasuk dipimpin Sangkarut. Di samping Sangkarut, 24 biksu lain duduk berjajar menghadap para jemaat. Dimulai pada pukul 08.00, prosesi itu berakhir pada pukul 10.30.

Menurut Sangkarut, ada 30 biksu yang tinggal di pagoda tersebut. Selain itu, banyak calon biksu yang sedang menempuh pendidikan di sana. Rata-rata yang berkunjung ke pagoda tersebut adalah warga di Muangthong Thani, Nonthaburi.

Tanakrid Keebbua, pengunjung, mengatakan, tradisi mendatangi pagoda saat Waisak sudah turun-temurun di keluarga  mereka. ”Ini perwujudan rasa syukur  kami,” ujar pria yang juga anggota Royal Thai Air Force itu, yang datang bersama keluarganya.

Warga yang selesai melakukan prosesi doa bisa menikmati beragam hidangan mulai pad thai, kolak labu, kwetiau, hingga kopi. ’’Ini semua gratis. Bukan hanya hari ini. Sebulan sekali kami memberikan hidangan gratis kepada pengunjung,” kata Santia Shan, warga yang kemarin membagikan kopi gratis.

Yang panen adalah para penjual bunga dan bingkisan. Sejak pagi, dagangan mereka laris manis. Bunga lotus dan dao rung yang paling banyak dibeli warga. Bingkisan berupa kain, alat mandi, makanan, dan lain-lain juga laris manis.

Di Thailand, terdapat sekitar 3 ribu pagoda. Seluruhnya ramai dan memiliki tradisi yang hampir sama. Termasuk di dua pagoda terkenal di Bangkok, Wat Arun dan Wat Pho. Wat Arun merupakan pagoda tertinggi di Bangkok. Sedangkan Wat Pho terkenal dengan patung Buddha tidurnya.

Kemarin Wat Arun sempat ditutup untuk umum karena ada keluarga Kerajaan Thailand yang sedang memanjatkan doa Waisak. ”Anda  bisa masuk setelah tamu penting ini pulang,” kata petugas  di Wat Arun.

Namun, masyarakat yang datang berbaur dengan turis yang juga menjejali dua pagoda itu. Maklum, letak Wat Arun dan Wat Pho berdekatan dengan Grand Palace. Dengan begitu, biasanya pengunjung Grand Palace sudah satu paket dengan Wat Pho dan Wat Arun.

Tak jauh dari Wat Pho terdapat satu pagoda lagi yang sangat ramai, yakni Khlong Lot Wat Ratchabophit. Di wihara itu, Biksu Somdet Phra Maha Muwiwong tinggal. ”Beliau adalah pemimpin biksu di Thailand,” kata Veneyable Bhanawat Ua-ayee, biksu dari Rama IX Golden Jubilee yang kemarin datang ke Wat Arun.

Menurut Hartanto Goenawan, warga Indonesia pendiri Community Learning Center (CLC), lembaga pendidikan untuk korban human trafficking di Wat Arun, prosesi berjalan mengelilingi bangunan pagoda dilakukan hampir serempak pada pukul 19.00. Di semua wihara.

”Tujuannya, mengamalkan ajaran Buddha, Dharma, dan Sangha,” kata pria yang tahun lalu mendapatkan penghargaan dari perdana menteri Thailand sebagai orang yang berjasa dalam menyelamatkan gadis-gadis korban perdagangan orang itu.

Menurut Hartanto, tradisi Waisak di Thailand ya hanya berdoa di wihara. Tidak ada tradisi mudik atau saling berkunjung ke keluarga atau tetangga seperti halnya dengan Lebaran. ”Ini dari Waisak ya berdoa dan berbuat baik,” kata pria yang pernah menjadi biksu di Thailand tersebut.

Tadi malam di Pagoda Ratchabophit yang memiliki bangunan setinggi 43 meter dengan arsitektur khas Sri Lanka juga dipadati masyarakat. Seluruhnya mengenakan baju serbaputih. Ribuan orang memadati pagoda tersebut.  Sejak pukul 18.00, secara bergantian masyarakat mengelilingi bangunan pagoda sambil membawa lilin.

Situasi ramai tidak hanya terlihat di pagoda. Di bangunan bersejarah Bangkok City Pillar Shrine, sejak pagi hingga sore masyarakat terus berdatangan. Di bangunan suci itu, terdapat dua pilar Kota Bangkok.

Pilar tersebut dijaga dengan lima semangat. Salah satunya Phra Sua Muang atau semangat melindungi tanah air, menjaga keamanan, dan menghindari invasi. Kedua, Phra Song Muang atau semangat menjaga kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Ketiga, Phra Kanchaisi, yakni dewa kematian yang menyingkirkan orang-orang berdosa atau jahat. Keempat, Chao Cettakhup yang melindungi dari roh jahat dan pengaruh buruk. Terakhir, Chao Hoklong atau semangat bertanggung jawab atas semua kejadian yang terjadi di bumi serta menjaganya dari senja hingga fajar.

Dua pilar yang menancap 79 inci itu dibangun Raja Rama IV pada 21 April 1782 untuk menghormati Raja Rama I yang berhasil menjaga wilayah kerajaan dari invasi asing. ”Karena itu, ada proses mengikatkan lima lembar kain di miniatur pilar tersebut saat berdoa di tempat ini,” kata Nicha Jiramong, pengunjung Bangkok City Pillar Shrine. (*/c11/ttg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *