Uskup Jayapura Apresiasi Umat Katolik

Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM didampingi para tokoh agama dan tokoh masyarakat saat meletakkan batu pertama pembangunan Gereja Paroki Kristus Jaya Wamena, Minggu (27/5) kemarin.

WAMENA– Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM secara resmi meletakkan batu pertama pembangunan gereja baru Paroki Kristus Jaya Wamena, Minggu (27/5). Gereja ini akan dibangun dengan desain berbentuk rumah adat masyarakat Lembah Baliem yakni Honai.

Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM mengapresiasi kepada semua umat dan tokoh-tokoh gereja yang bertekad membangun satu gereja baru dengan komitmen dan tekad yang kuat. Di mana sudah lama ia mendapat permintaan supaya cepat-cepat memberikan izin untuk mendirikan gereja baru.

“Tekad umat sudah bulat, dengan alasan yang berbagai macam tapi satu alasan yang menggerakkan saya untuk ikut ialah mereka mau bangun satu gereja yang bukan hanya sedikit representatif untuk umat, tapi juga model bangunannya mau mencerminkan adat di tempat ini,” ungkap Uskup Leo saat memberikan sambutannya pada acara peletakan batu pertama pembangunan Gereja Paroki di Wamena, kemarin.

Uskup melihat, desain bangunan yang direncanakan sangat bagus karena telah mengikuti bangunan khas Lembah Baliem, Pegunungan Tengah Papua. Menurutnya, untuk membangun desain seperti ini memang cukup sulit hanya saja dengan tekad umat diyakini bisa rampung sesuai rancangan.

“Menurut kesan orang yang pernah membangun desain berbentuk honai cukup sulit, tapi panitia mengatakan bahwa telah memiliki cara bagaimana untuk membangunnya. Dari sisi teknik dikatakan sulit, tapi tekadnya ada maka saya ucapkan selamat atas tekad itu,”jelasnya.

Dia juga memberikan catatan kepada panitia dan umat karena saat ini Keusukupan Jayapura baru memberikan izin prinsip untuk membangun gereja karena dari sisi pendanaan memang belum mencapai 75 persen atau 2/3 dari dana yang direncanakan umat.

“Menurut aturan gereja, umat tidak bisa membangun satu gereja kalau belum mendapatkan izin dari Uskup. Artinya kalau ingin membangun gereja semua beres sedangkan izin prinsip diberikan kalau bersiap-siap membangun gereja,” kata Uskup Leo Laba Ladjar

Uskup Leo juga mengingatkan agar pembangunan gereja itu tidak bernasib sama seperti peristiwa Babel. Yang mana, ada tekad yang besar membangun babel hingga menyentuh langit tapi karena kesombongan, Tuhan mengacaukan mereka sehingga bangunan itu tak rampung.

Di tempat yang sama, Pjs. Bupati Jayawijaya, Doren Wakerkwa, SH menyampaikan apresiasinnya kepada umat Katolik yang merencanakan pembangunan gereja yang representatif itu.

Selengkapnya baca di Harian Cenderawasih Pos edisi 28/5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *