Pembangunan Terminal Tipe B di Nabire Sudah Lewati Pengujian Sampel

Kepala UPTD Pengujian dan Laboratorium PU Provinsi Papua, Adolf Wakum bersama para stafnya ketika memberikan keterangan pers di Kantor UPTD Pengujia  Dan Laboratorium Papua Di Kotaraja,Jumat(25/5).

JAYAPURA-Adanya  perbedaan pengujian antara UPTD Balai Pengujian dan Laboratorium Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua dengan yang dilakukan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terhadap pembangunan proyek terminal penumpang tipe B di Nabire, kini membuat pihak UPTD Balai Pengujian dan Laboratorium Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua angkat bicara terkait kasus dugaan korupsi yang melibatkan Kepala Dinas PU Papua, Djuli Mambaya,  sewaktu menjabat Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua.

Kepala UPTD Balai Pengujian dan Laboratorium Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua, Adolof Wakum menyampaikan, pembangunan terminal penumpang tipe B Tahun 2016 yang dilaksanakan di Kabupaten Nabire, sebelumnya sudah melewati pengujian sampel kubus beton K-350 Kg/cm² pada 21 Desember-19 Januari Tahun 2017.

“Intinya sebagian besar pengujian sampel rata-rata dinyatakan baik, sehingga disarankan kepada lembaga manapun agar mempertimbangkan untuk menggunakan sampel kubus beton dalam menghitung pembayaran,”ungkap Wakum didampingi para stafnya ketika  memberikan keterangan pers,Jumat(25/5).

Menurutnya, penggunaan coredrill beton masih diperdebatkan apakah dapat mewakili semua segmen dan struktur beton yang telah dibangun. Dilain pihak, esensi dari pengujian lapangan, tidak boleh sampai merusak beton yang telah dikerjakan.

“Teknisnya kan beton K350 adalah kekuatan tekan beton 350 Kg/cm². Sehingga dari situ nantinya ada sampel yang dibawakan pihak ketiga kepada kita untuk diuji melalui kubus beton ukuran 15x15x15 Cm pada umur 28 hari,”ujar Wakum

Wakum mengaku, sudah menjadi spesifikasi umum teknis di Bina Marga serta jadi acuan untuk keperluan evaluasi mutu beton, yang juga dipakai sebagai dasar pembayaran.

Pasalnya  kalau dikembalikan lagi kuat tekan beton itu dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI)  Tahun 1971,  di mana menyebutkan bahwa kuat tekan beton diartikan sebagai kekuatan tekan yang diperoleh dari benda uji gugus yang berisi 15 Cm³ pada umur 28 hari.

Selengkapnya baca di Harian Cenderawasih Pos edisi 28/5 (ans/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *