BKPJ Dorong Swasembada Daging di Papua

drh. L. M. Mastari, MM

JAYAPURA-Dalam rangka mendukung Pemerintah Provinsi Papua mewujudkan swasembada daging, salah satunya untuk memenuhi kebutuhan selama penyelenggaraan PON XX di Papua pada 2020 nanti, Balai Karantina Pertanian kelas I Jayapura (BKPJ) terus berupaya meningkatkan pengawasan untuk membantu peningkatan produktivitas hewan ternak di Papua.

Kepala BKPJ, drh. L. M. Mastari, MM., yang mengatakan bahwa pengendalian penyakit merupakan salah satu langkah pengawasan dari luar dalam peningkatan produktivitas hewan ternak.

“Salah satu unsur pengendalian penyakit adalah pengendalian lalu lintas komoditas dari satu daerah ke daerah lainnya, sebab dari situlah terdapat hewan pembawa penyakit,” ungkap Mastari kepada Cenderawasih Pos, Senin (30/4).

Dikatakan, tidak hanya mendukung pemerintah daerah melalui pengawasan lalu lintas komoditas dari suatu daerah ke Provinsi Papua, BKPJ juga melakukan pengawasan penyakit-penyakit yang merupakan outbreak dari lapangan itu sendiri.

“Jadi, penyakit itu bisa dibawa dari luar, yang mana kita jaga supaya tidak masuk ke Papua. Namun, penyakit juga bisa muncul dari dalam, sehingga inilah yang kita antisipasi. Oleh sebab itu, dengan bersama dinas teknis terkait, dalam hal ini Dinas Pertanian dan Dinas Peternakan, kita turun lapangan untuk melakukan pemantauan dan monitoring. Monitoring dilakukan terhadap kesehatan hewan-hewan ternak, serta pemantauan dilakukan terhadap penyakit-penyakit tertentu, seperti rabies dan avian influenza (flu burung), yang mana kita sudah bebas dari keduanya,” tambahnya.

Balai Karantina Pertanian kelas I Jayapura menurut Mastari saat ini telah diperkuat laboratorium karantina dengan kompetensi pengujian terhadap virus-penyakit melalui pemeriksaan DNA dengan menggunakan metode PCR (Polymerase Chain Reaction).

“Terkait swasembada, dua daerah di Papua sudah swasembada telur ayam, yakni Mimika dan Merauke. Selain itu, daging sapi kita di Merauke itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan secara menyeluruh di Provinsi Papua. Demikian pula untuk daging ayam,” jelasnya.

Seperti diketahui, memang masih terdapat daging eks impor yang masuk ke Papua. Meskipun hal ini hanya untuk memenuhi kebutuhan tertentu, seperti kebutuhan di restoran dan hotel. Sebaliknya, untuk daging sapi di pasaran, kebanyakan dari sapi lokal di Merauke.

Menurut data yang dimiliki Balai Karantina Pertanian kelas I Jayapura, sepanjang Januria-Maret 2018, jumlah komoditi telur ayam konsumsi yang masuk ke Jayapura mencapai 1.344.588 Kg. Kemudian, untuk daging sapi yang masuk ke Jayapura sendiri mencapai 69.442,39 Kg. Sedangkan, untuk daging ayam beku, totalnya adalah 1.733.497 Kg,  yang masuk ke Jayapura. (gra/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *