13 Guru Berhasil Dievakuasi dari Arwanop

Kristoforus Duteren/Radar Timika

Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi saat membopong salah satu guru yang sempat pingsan begitu turun dari Helikopter, di bandara Moses Kilangin, Mimika, (19/4)

 

TIMIKA – Pasukan TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Penanggulangan Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (Satgas KKSB), Kamis (19/4) pagi kemarin berhasil mengevakuasi 13 guru yang beberapa diantaranya adalah korban penyiksaan KKSB di Aroanop, Distrik Tembagapura. Para korban dievakuasi ke Timika menggunakan dua unit helikopter milik TNI.

Ke-13 guru yang berhasil dievakusasi Tim Satgas Penanggulangan KKSB di bawah pimpinan Kolonel Inf F Pelamonia yang juga merupakan Komandan Brigif-20/IJK tersebut, terdiri dari tujuh guru perempuan dan enam guru laki-laki yang delapan diantaranya bertugas di SD Arwanop dan lima lainnya di SD Jagamin, Distrik Tembagapura. Para guru terdiri dari guru PNS, guru kontrak dan guru yang merupakan mahasiswi KPG PGSD Universitas Cenderawasih yang sedang melakukan Program Pengalaman Lapangan (PPL).

Kolonel Inf F Pelamonia usai proses evakuasi di Halipad Penerbad Bandara Mozes Kilangin Timika mengatakan, sebenarnya jumlah keseluruhan guru yang ada di Kampung Arwanop dan sekitarnya ada sebanyak 18 orang, namun yang berhasil dievakuasi pada Kamis kemarin baru 13 orang.

Dalam operasi penyelamatan para guru oleh Satgas Penanggulangan KKSB kata Kolonel F Pelamonia, pasukan yang terbagi menjadi empat tim berhasil menduduki ujung Kampung Aroanop sejak Pukul 05.30 WIT.

” Kita sudah menduduki dan menguasai kampung Araonop dari pukul 05.30 WIT. Pasukan pemukul saya yang terdiri dari empat tim sudah masuk dan berhasil menduduki kampung tersebut dan kita langsung menguasai dari ujung kampung,” jelasnya.

Setelah pasukan TNI berhasil menduduki Kampung Arwanop, operasi selanjutnya memukul mundur  dan melakukan pembersihan ke dusun-dusun berbukit dari gerombolan KKSB, Dusun Omponi, Ombani 1, Ombani 2, Ainggigi 1, Ainggigi 2, dan Ainggogin. Secara umum lanjut Kolonel F Pelamonia, proses evakuasi berjalan dengan lancar.

Kepala Sekolah SD Negeri Aroanop Philipus Lefteuw ketika diwawancarai wartawan disela proses evakuasi mengaku terpukul dengan peristiwa yang dialami para gurunya tersebut.

Philipus menjelaskan, sebelum kejadian pihaknya sempat berkomunikasi dengan para guru melalui telepon seluler pada Kamis (12/4) lalu dan berencana menghubungi Kepala Kampung Arwanop pada Jumat (13/4) terkait rencana evakuasi guru ke Timika jika situasi keamanan tidak memungkinkan. Namun, aksi kekerasan dan penyiksaan sudah lebih dahulu terjadi pada Jumat (13/4) oleh gerombolan KKSB.

“Jumat pagi tidak ada informasi dan pada malam harinya kepala kampung telepon dan katakan bahwa Arwanob hancur. Saya tanya hancur apanya, dia bilang ini orang-orang dari luar mereka serang guru-guru di Dusun Omponi dan keterangannya ada guru yang korban,” tuturnya menceritakan komunikasinya dengan kepala kampung.

“Yang saya sangat menyesal, kenapa bisa terjadi, padahal kami bertahun-tahun mengabdi di sana dan tidak pernah terjadi,” sambung Philipus.

Salah satu guru yang menjadi korban penyiksaan KKSB di Aroanop, Rano Syamsul Bahri juga membenarkan perlakuan keji KKSB kepadanya dan teman-temannya. Rano mengisahkan jika pada waktu itu, Jumat (13/4) sekira pukul 15.30 WIT, mereka sementara duduk di dalam rumah. Namun tiba-tiba gerombolan KKSB mendatangi mereka dengan persenjataan lengkap.  ” Kejadian itu secara mendadak, jam 3 sore mereka datang dan melakukan tindakkan kekerasan kepada kami, meraka menyandara kami sekitar 45 menit,” ucapnya.

Gerombolan KKSB yang datang dan langsung melakukan tindakkan kekerasan terhadap mereka. Bahkan dengan menodongkan senjata api di kepalanya dan teman-temannya, KKSB memisahkan guru yang  laki-laki dengan guru perempuan. ” Mereka juga memisahkan kami yang laki-laki dengan perempuan, untuk kami yang laki -laki mereka todong dengan senjata di kepala, sementara untuk yang perempuan dipukul ditendang serta melakukan aksi keji mereka,” ucapnya sambil menangis.

Rano merincikan, jumlah keseluruhan guru yang ada di SD Arwanop ada sembilan orang termasuk kepala sekolah. Hanya saja yang berada ditempat saat kejadian sebanyak 8 orang guru yang terdiri dari satu orang guru PNS, empat orang guru kontrak dan tiga orang mahasiswi yang sedang melaksanakan PPL dari KPG. Sementara di SD Jagamin, terdiri dari 10 orang guru termasuk mahasiswa PPL dan saat ini lima orang guru sudah dievakuasi namun beberapa lainnya termasuk salah seorang guru kontrak putra daerah dari Jagamin belum berhasil dievakuasi.

Jarak antara SD Aroanop dan SD Jagamin menurut Rano kurang lebih 4 kilometer. ” Untuk kami yang di SD Jagamin puji Tuhan sehat, dan begitu kejadian masyarakat kampung Jagamin langsung menghatar kami ke Ompini. Namun selama ini di Ompini kami tidak bisa keluar dari dalam rumah,” sambung Eustakhius Lefteu, salah satu guru kontrak yang juga menjadi korban.

“Sekali lagi saya katakan, kami di Jagamin sehat, namun karena lokasi tersebut merupakan perlintasan KKSB dan memang di daerah tersebut sering didatangi KKSB sehingga kami juga di evakuasi,” sambungnya.

Dari pantauan Radar Timika, proses evakuasi dengan menggunakan dua unit helikopter Penerbad tersebut diwarnai tangis haru para korban.

Helikopter pertama yang mendarat ditumpangi oleh para guru wanita yang didampingi Dansatgas Penanggulangan KKSB, sementara helikopter kedua khusus untuk para guru pria.

Setibanya di Helopad Penerbad, para guru langsung dijemput oleh masing-masing kepala sekolahnya dan utusan Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, serta Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Muhamad Aidi.

Isak tangis para guru pecah ketika turun dari helikopter, para guru langsung berpelukan bahkan ada guru yang sempat pingsan, namun segera digotong oleh Kapendam ke dalam mobil yang telah menunggu. Para guru kemudian diantar ke rumah masing-masing oleh kepala sekolahnya. (itz/fia)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *