Proses Belajar Mengajar Arwanop Tidak Berjalan

Elfira/Cepos

Kombes Pol AM Kamal

** Imbas dari Pemerkosaan Guru

TIMIKA- Imbas dari kasus Pemerkosaan yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata  (KKB) kepada salah satu Guru Kontrak dengan inisial MB Distrik Tembagapura tepatnya di Kampung Arwanop, Kamis (12/4) berakibat pada terganggunya aktivitas proses belajar mengajar di daerah tersebut. Hal tersebut diungkapkan Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal dalam siaran persnya di Mapolda Papua, Senin (16/4) kemarin.

“Sebanyak 16 Guru yang ada di sana masih trauma pasca kejadian tersebut, sehingga berdampak pada proses pendidikan yang ada di sana,” kata Kamal.

Dikatakannya, hingga saat ini korban belum dilakukan Visum karena belum dilakukan proses evakuasi dari Kampung Arwanop ke Tembagapura. Hal ini dikarenakan belum adanya transportasi.

“Korban masih berada di Kampung Arwanop, salah satu transportasi yang ada di sana hanya jalur udara sehingga itu yang menjadi kendala proses evakuasi,” terangnya.

Terkait dengan pelaku sendiri kata Kamal diduga berjumlah 3 hingga 6 orang, di mana saat ini sedang dilakukan upaya pencarian terhadap pelaku.

Tak hanya mengalami pemerkosaan, guru kontrak yang bertugas di Arwanop juga dianiaya oleh KKB. Kejadian ini sudah diketahui dan dibenarkan oleh Bupati Mimika, Eltinus Omaleng, SE MH setelah mendapat informasi langsung dari kepala kampung.

Bupati Omaleng yang ditemui di Pendopo Rumah Negara, Senin (16/4) kemarin mengatakan, ada 8 orang guru kontrak yang bertugas di Arwanop. Berdasarkan info yang diterima Bupati dari kepala kampung bahwa 8 orang guru kontrak itu mendapat perlakuan yang sangat tidak manusiawi dari KKSB. “Yang laki-laki diikat terus dihajar dengan senjata, sementara yang cewek diperkosa,” ujar Bupati.

Bupati sendiri sangat mengutuk perbuatan keji dari KSB tersebut. Masyarakat menurut kabar yang diterima bupati, sudah berupaya mengejar para pelaku, namun mereka lari ke hutan. Tapi Bupati meminta agar para pelaku harus dikejar kemudian ditangkap dan diberi hukuman seberat-beratnya.

Sampai kemarin sore, kedelapan guru kontrak tersebut belum bisa dievakuasi dari Arwanop. Namun dikatakan Bupati, semuanya sudah diamankan di tempat yang lebih aman. “Mereka sudah aman di satu tempat dan tidak ada yang meninggal,” kata Bupati Omaleng.

Kepala Dinas Pendidikan Dasar Kabupaten Mimika, Jeni Usmani juga tidak menampik adanya kabar tersebut. Delapan orang guru kontrak sudah kembali ke Aroanop sejak Februari lalu untuk menjalankan tugasnya di sekolah tempat mereka ditempatkan.

Jeni sangat mengecam dan menyayangkan kejadian yang menimpa guru yang seharusnya dihormati oleh masyarakat, karena berjasa dalam memajukan pendidikan dengan mengajar anak-anak di kampung. Tapi justru masyarakat kerap tidak memberikan rasa aman bagi guru.

Situasi keamanan di wilayah Distrik Tembagapura sejak akhir Tahun 2017 memang tidak kondusif. Persoalan di Banti juga merembet sampai ke Arwanop. Namun menyangkut status keamanan, menurut Jeni bukan kewenangannya untuk menyatakan aman atau tidak. Dinas Pendidikan hanya berupaya memberikan layanan kepada masyarakat. selengkapnya pada edisi cetak 17 april.  (fia/sun)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *