Dalam Dua Tahun, Jumlah Murid Tidak Bisa Baca Menurun

Yohana/Cepos

Antusias siswa/i kelas 1 SD YPK Yepase Distrik, Depapre saat dikunjungi tim Unicef, Rabu (11/4) kemarin.

 

Dari 48,47 Persen Menjadi 28 % di Papua dan Papua Barat

JAYAPURA – Sejak Tahun 2015, Unicef mengadakan penelitian kepada murid-murid kelas 1 hingga kelas 3 SD di Papua, untuk mengetahui kemampuan baca mereka. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Unicef tersebut,  terungkap bahwa  ada  48,47 persen siswa di Papua dan Papua Barat yang tidak tau membaca, namun dalam dua tahun ini sudah mulai menurun signifikan.

Jika dibandingkan secara nasional,  siswa yang tidak tahu membaca hanya sekitar 5,8 persen. Hal ini tentu menjadi tantangan yang besar bagi Unicef untuk dapat meningkatkan kemampuan anak di kedua provinsi paling timur di Indonesia ini.

Education Specialist Unicef, Try Laksono Harysantoso mengatakan, hasil penelitian tersebut diambil dari 6 kabupaten yang berada pada daerah pinggiran dan pedalaman terpencil yakni,  4 diantaranya di Provinsi Papua dan 2 kabupaten lainnya di Papua Barat. Untuk Provinsi Papua terdiri dari Kabupaten Jayapura, Timika, Biak dan Jayawijaya, sedangkan untuk Papua Barat terdiri dari Sorong dan Manokwari.

“Berdasarkan hasil penelitian tersebut kita mengimplementasikan program yang dikenal program baca literasi kelas bawah, dalam program tersebut kita mencoba meningkatkan pengetahuan guru dalam mengajar pelajaran Bahasa Indonesia dengan metode yang lebih menarik,” kata Try saat mengunjungi Graha Pena Papua, Rabu (11/4) kemarin.

Lanjutnya, dalam meningkatkan pengetahuan guru, pihaknya menyediakan peralatan mengajar serta membimbing guru-guru tersebut. Dalam membimbing guru Unicef menggunakan dua model pendampingan yakni Model A dan Model B.

Pendampingan menggunakan metode  A, yaitu, guru-guru dari sekolah yang berdekatan atau yang dikenal dengan gugus atau klaster pihaknya kelompokan dan melatih mereka dengan metode mengajar Bahasa Indonesia yang lebih menarik.  Namun  untuk sekolah yang terpencil yang tidak bisa dikelompokan dalam pelatihan, maka pihaknya  menyediakan mentor untuk mendampingi guru-guru dalam mempersiapkan pelajaran Bahasa Indonesia.

“Setelah melakukan pendampingan kurang lebih dua tahun berjalan, di tahun 2017 kami melakukan pendataan kembali dan membandingkan jumlah siswa yang tidak bisa membaca di kelas 2 dan 3 SD dengan tahun 2015 lalu, tercatat jumlah 48,47 persen siswa yang tidak bisa membaca turun menjadi 28 persen, dalam kurun waktu 2 tahun,” jelasnya.

Diakui Try, Hasil tersebut merupakan hasil yang sangat signifikan capaiannya, sehingga dirinya dan teman-teman Unicef lainnya  mendorong kabupaten lain untuk dapat mengimplementasikan meode mengajar tersebut  dengan menggunakan dana APBD.

“Sampai dengan saat ini,  yang sudah kelihatan nyata ingin menerapkan program tersebut adalah Kabupaten Jayapura, dimana sudah ada 5 sekolah yang tahun ini akan menggunakan pendekatan pengajaran Bahasa Indonesia yang sudah kami perkenalkan sebelumnya dan akan diterapkan pada 5 sekolah baru lainnya, dengan dana mereka sekitar Rp 500 juta,” bebernya.

Pihaknya juga ingin menyampaikan kepada semua kabupaten di Papua dan Papua Barat agar dapat menerapkan program tersebut guna meningkatkan minat baca peserta didik.  Untuk saat ini pihaknya mengundang 5 kepala Unicef dari Makasar, Jawa, Aceh, Kupang dan NTT, agar bisa menyaksikan sendiri dan kemudian dapat dikembangkan di setiap Provinsi yang lainnya.

“Yang menariknya adalah biasanya Papua menyontek dari pulau lain, kali ini dengan program yang Unicef  jalankan di Papua, sekarang Papua menjadi contoh bagi Provinsi lainnya di Indonesia,” jelasnya.

Sementara itu, untuk meningkatkan kesejahteraan anak dan ibu dan juga turut membantu pemerintah Papua, Unicef hadir di Papua dan Papua Barat dengan program utama kesehatan dan pendidikan bagi ibu dan anak di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Education Specialist Unicef Indonesia Papua Field Office, Monika Nielsen, PhD mengatakan, semua program yang pihaknya lakukan saat ini untuk membantu pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat. Selain dua tugas pokok besar yang pihaknya jalankan saat ini yakni, kesehatan dan pendidikan, kedepannya Unicef juga berncana membuat program perlindungan anak dengan tujuan meningkatkan kesejateraan anak dan ibu.

“Guna meningkatkan program kesehatan di Provinsi Papua dan Papua Barat, kami juga akan mengelar kampanye imunisasi campak rubella dangan target dapat menjangkau sebanyak 1 juta jiwa di Papua dan 300 ribu jiwa di Papua Barat, hal ini merupakan suatu kegiatan besar yang sedang dinanti-nantikan kedua provinsi, guna meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak,” kata Monika.

Sebelumnya, Unicef telah mengunjungi beberapa sekolah di Kabupaten Jayapura yang telah menerapkan program literasi kelas bawah yaitu program belajar Bahasa Indonesia yang lebih menarik, salah satunya adalah Sekolah Dasar YPK Yepase Distrik Depapre.

Sekolah tersebut memiliki 57 siswa yang terdiri dari kelas I-VI, setiap kelas memiliki jumlah siswa yang berbeda, paling sedikit terdapat pada siswa kelas 2, yang hanya memiliki 5 orang murid. Sekolah tersebut memiliki 8 guru yakni  7 guru PNS dan 1 Guru Kontrak.

Cara guru-gurunya mengajar Bahasa Indonesia juga berbeda, setiap huruf memiliki lagu. sebanyak 26 lagu diciptakan sesuai dengan banyaknya huruf dalam sebuah abjad, tujuannya dengan bernyanyi siswa lebih mudah untuk mengenal huruf dan membaca. (ana/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *