Kalah Lari, Dua Waria Berhasil Lolos

MERESAHKAN: Dua waria diminta menunjukkan dokumen administrasi kependudukan miliknya di Kantor Satpol PP, Rabu (14/3) dini hari. SATPOL PP FOR KALTIM POST

Menyisir Jalanan Kota Muara Rapak  Semalam Bersama Satpol PP

Jam di tangan kiri Siswanto menunjukkan pukul 01.00 Wita. Matanya awas. Menyapu sepanjang pinggir jalan, di antara temaramnya Jalan Soekarno-Hatta, Muara Rapak, Balikpapan Utara, Rabu (14/3).

===

DIA tak sendiri. Di tengah serbuan udara dingin yang menembus jaket denim birunya. Ada 17 orang lainnya yang mengekor diangkut dua pikap patroli. Mereka mengenakan seragam cokelat dilengkapi pentungan dan kayu setebal jempol orang dewasa.

Dini hari itu, Sis–biasa disapa, sedang memimpin operasi. Sebagai Kasi Ops Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), dia dapat tugas. Menertibkan kupu-kupu malam yang meresahkan warga Balikpapan. Tak hanya perempuan penjaja cinta, namun menyasar pada mereka yang melepas takdirnya sebagai pria, biasa disebut waria.

“Itu Ndan,” tunjuk seorang petugas. Tepat di dekat Kantor Kelurahan Muara Rapak, mobil patroli langsung mengerem mendadak. Perintah Sis untuk beraksi langsung disambut entakan sepatu bot para petugas di aspal hitam.

Seorang waria langsung membanting rokoknya. Sepasang sepatu hak seketika berpindah ke tangannya. Balik kanan, si waria yang memakai rok yang memamerkan pahanya itu langsung ambil langkah seribu. “Kejaaar,” kata Sis kepada anggotanya.

Aksi pengejaran berlangsung di tengah perkampungan. Hampir petugas mendapati si waria. Meski sebelumnya terlihat melambai menggoda pengendara motor yang lewat, kecepatan pemilik betis kesebelasan pemain bola itu, mengalahkan lari petugas. Bahkan ketika si waria hampir tercebur dalam got berisi air comberan. Namun, dia bangkit lagi. Lantas menghilang di gang selebar mobil di Strat VI.

“Cepat sekali larinya,” kata petugas pengejar dengan napas tersengal. Latihannya selama ini rupanya belum cukup untuk menandingi waria berpakaian minim tersebut.

Gagal menangkap, petugas kembali mencari batang hidung waria lainnya. Ya, ada lagi rupanya yang sedang mangkal di kawasan Inpres itu. Namun, sama seperti sebelumnya, petugas kembali kalah cepat. “Sudah dua yang lolos,” kata Sis dengan raut wajah kecewa.

Namun, satuannya tak menyerah. Operasi beralih ke kawasan Gunung Pasir. Kawasan pendidikan itu juga kerap jadi tempat mangkal. Bahkan di lokasi ini, di sekitar gang dekat SMP 1, sering ditemui kondom berkualitas rendah berserakan. Sayang, dini hari kemarin tak ditemui satu pun waria yang nongkrong.

“Kami pindah ke kawasan Markoni. Dekat diler mobil. Di sana juga biasa langganan waria mangkal,” kata Sis.

Hingga pukul 02.30 Wita, operasi yang terancam berbuah tangan kosong akhirnya mendapatkan hasil. Dua waria bernama Chiko yang memiliki nama panggilan Chika dan Beti yang punya nama asli Agus Nedi tampak disoroti lampu jalan. Di dekat gang samping Kantor Samsat, Jalan Jenderal Sudirman, Klandasan Ilir, Balikpapan Kota. Dengan santai, keduanya pamer tubuh langsing sambil memainkan ponsel pintarnya.

“Iya saya enggak lari,” ucap Chiko. Pria 32 tahun itu rupanya sudah bosan lari dari kejaran petugas. Dia sendiri tak menghitung berapa kali dirinya diamankan Satpol PP. Tak hanya di Balikpapan juga di Sulawesi tempatnya dilahirkan.

Bersama Beti yang beralamat di Manggar Sari, Balikpapan Timur, Chiko yang indekos di Markoni lantas dibawa ke markas Satpol PP. Setelah didata, keduanya akan dititipkan ke Dinas Sosial. Karena tak membawa identitas diri, Chiko dan Beti pun harus mengikuti sidang tipiring. Waktu subuh tiba ketika pemeriksaan terhadap Beti dan Chiko selesai. “Lagi halangan Pak,” canda keduanya ketika diajak petugas untuk salat berjamaah. (*/rdh/rsh/k15)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *