Masyarakat Papua Sepakat Tolak Hoax

Penandatanganan spanduk anti hoax yang dilakukan Kapolda Papua, Irjen Pol Boy Rafli Amar bersama PJS Gubernur Papua, Kasdam XVII cenderawasih dan diikuti tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, peguyuban suku-suku se-kota jayapura, serta pelajar.

JAYAPURA-Tolak pemberitaan Hoax, masyarakat Papua, Pemerintah Daerah, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat  dan Tokoh Perempuan  serta TNI/Polri Deklarasikan Anti Hoax yang berdampak konflik dan bertentangan dengan Norma Agama, Bangsa dan Negara di Taman Imbi, Selasa (13/3).

  Kapolda Papua Irjen Pol Drs Boy Rafli Amar MH mengatakan bahwa seiring perkembangan teknologi informasi dengan bergulirnya dan berkembangnya media sosial di tengah-tengah masyarakat, tidak sedikit bahkan banyak informasi yang disebarluaskan yang tidak berdasarkan fakta dan mengandung unsur kebohongan.

  “Masyarakat Papua harus menjadi masyarakat yang anti Hoax, kita ingin masyarakat Papua  menyadari bahwa Hoax adalah kebohongan dan pelanggarana hukum. Dan hoax telah   tumbuh berkembang menjadi kebiasaan buruk masyarakat dalam menggunakan  media sosial,”  ucap Rafli Amar kepada wartawan.

  Menurutnya, informasi yang tidak berdasarkan fakta menjadi sebuah kebohongan yang dapat  berdampak kepada penyesatan pemahaman masyarakat yang bisa berdampak pada pemecahan persatuan dan kesatuan masyarakat.

  “Kita ingin tidak ada perpecahan di kalangan masyarakat akibat berita bohong, namun acap kali berita bohong itu sengaja  digulirkan untuk menimbulkan  sebuah suasana yang tidak menyamankan di masyarakat,” jelasnya.

  Untuk itu, dirinya mengharapkan melalui Deklarasi Anti Hoax semangat masyarakat dalam menggunakan Media Sosial dalam tataran hukum sebagaimana diatur dalam UU No 11 Tahun 2008 tentang informasi transaksi elektronik yang telah dirubah menjadi UU No 19 Tahun 2016, yang intinya penyampaian kata-kata bohong, penyebarluasan informasi yang berakibat berdampak dapat menimbulkan konflik SARA dan mengandung unsur fitnah ini adalah bagian dari hukum dengan ancaman 7 tahun penjara.

Selengkapnya baca di Harian cenderawasih Pos Edisi Rabu (14/3)  (fia/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *