JWW: Kita Harus Memanusiakan Manusia

  Direktur Utama BMC John Wempi Wetipo mengenakan pakaian anak-anak Balita yang dirawat di Posko Aula Gereja.

ASMAT – Lembaga Baliem Mission Center (BMC) turun ke Asmat untuk memberikan bantuan kepada masyarakat di Asmat yang saat ini terserang musibah gizi buruk dan campak.  Selain   membawa 10 ton bahan makanan dan kebutuhan anak-anak, BMC juga  datang dengan membawa cinta dan kasih sayang bagi anak-anak balita di Kabupaten Asmat.

  Adapun bantuan kemanusiaan yang diberikan yakni, susu, minyak sayur, beras, bubur bayi, biskuit bayi, susu beruang, baju anak-anak dan pampers bayi, yang diserahkan kepada Keuskupan Agats yang dipercaya untuk menyalurkan bantuan ke anak-anak di Kabupaten Asmat.

  Direktur Utama BMC, John Wempi Wetipo mengungkapkan, walau tak banyak yang mereka berikan kepada masyarakat di Kabupaten Asmat, namun ini adalah wujud kepedulian mereka yang selama ini secara konsisten bergerak untuk misi kemanusiaan.

  “Ini adalah saudara-saudara kami. Jadi, kami harus turun. Masa, musibah seperti di Gunung Sinabung meletus   di Sumut dan Gunung Kelud di Jatim, banjir bandang di Manado dan beberapa daerah di Papua kami hadir, lalu di Asmat ini tidak hadir?” ujarnya.

   BMC dengan motto menjangkau yang tak terjangkau, menurut Jhon Wempi Wetipo yang juga  Bupati Jayawijaya itu, hadir ke Asmat dengan membawa “cinta dan kasih sayang”.

“Jadi bantuan yang kami bawa, bukan hanya dari internal BMC, tetapi ada beberapa lembaga pendonor seperti, HOPE World Wide, BCA, BCA Group, Lion Internasional dan TNI. Dimana lembaga-lembaga ini menyalurkan bantuannya melalui BMC, untuk diserahkan kepada masyarakat di Asmat,” tuturnya.

  Wempi Wetipo yang saat ini mencalonkan diri sebagai Gubernur Papua itu mengaku, telah berbicara dengan pengurus BMC, untuk menyiapkan tim dokter yang saat ini masih melayani di daerah suku terasing, untuk turun ke Asmat.

  “Jadi, saat ini  banyak dokter yang turun ke Asmat untuk merehabilitasi penyakit yang menimpa anak-anak disini. Saya berpikir bagaimana tim dokter kami, untuk nantinya siap turun ke Asmat, ketika para tim dokter kembali ke daerah mereka masing-masing,” ujarnya.

  Wempi Wetipo yang baru pertama menginjakkan kakinya di daerah dengan julukan seribu papan itu, mengaku perjuangan pemerintah daerah di Asmat sungguh luar biasa membangun daerahnya dalam rangka mensejahterakan masyarakatnya.

  “Saya seorang kepala daerah, jadi bisa merasakan apa yang dirasakan pemerintah di sini. Ini daerah yang kesulitannya cukup tinggi, ditambah usia daerah yang sangat muda. Jadi, saran saya di luar sana tak perlu berbicara banyak tentang situasi di sini, sebelum melihatnya secara langsung. Lebih baik, kita bersama-sama pemerintah dan tim yang ada disini untuk menyelesaikan permasalahan yang ada,” katanya.

   Wempi Wetipo menjelaskan informasi yang diterimanya saat ini ada 70 anak Balita meninggal dunia lantaran wabah gizi buruk dan campak. Dimana ditemukan 646 anak terkena wabah campak dan 144 anak menderita gizi buruk. Selain itu, ditemukan pula 25 anak suspect campak dan 4 anak yang terkena campak dan gizi buruk.

  “Hingga saat ini ada 93 pasien yang menjalani rawat inap di Agats, masing-masing 41 orang di RSUD Agats dan 52 pasien di aula Gereja GPI. Kasus KLB ini, juga sudah menjadi perhatian publik dan direspon baik oleh pemerintah pusat,” kata Wempi.

  Wempi yang diusung Partai PDI Perjuangan dan Gerindra itu, mengaku pemerintah daerah Asmat sudah sangat luar biasa memberdayakan masyarakatnya.

  “Saya ingat kata dr. Samratulangi, manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia,” katanya, melihat upaya pemerintah daerah yang dengan cepat menangani KLB ini. Selengkapnya baca di Cenderawasih Pos 28/1  (Humas BMC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *