Penundaan Pelayanan Penerbangan di Bandara Torea Fakfak Diperpajang 3 Hari

FAKFAK-  Kepala   Unit   Pelayanan   Bandar   Udara   (UPBU)   Torea,   Halik   Genuni mengatakan,  longsornya tebing  Bandara   Torea  yang   menimbulkan   satu   korban   jiwa,  terjadi saat pihak kontraktor yang   mendapatkan   pekerjaan perpanjangan landasan pacu Torea, sedang melakukan pembersihan lokasi di samping runway.  “Longsor yang menimpa korban Fandy dan dua alat berat karena saat itu kontraktor yang mendapatkan proyek perpanjangan Bandara Torea pada tahun anggaran 2017, sedang menyelesaikan pekerjaan pembersihan lokasi di samping landasan pacu,” kata Kepala Unit Pelayanan Bandar Udara (UPBU) Torea Fakfak, Halik Genuni kepada Radar Sorong (group Cenderawasih pos), kemarin.

  Menurutnya,   proyek   perpanjang an landasan pacu Bandara   Torea yang dialokasikan dananya pada tahun 2017 senilai kurang lebih Rp 17 miliar, pekerjaannya sudah selesai.  Namun ketika musibah longsor terjadi pada Rabu (10/1)  sekitar  pukul 09.00  WIT,  saat  itu pihak kontraktor menyelesaikan pekerjaan pembersihan lokasi pengambilan material yang berada di samping Bandara Torea.  “Jadi pekerjaan yang dilakukan saat terjadinya longsor, sudah diluar dari kontrak karena memang samping run way sudah harus di bersihkan dari sisa-sisa material agar tidak mengganggu aktifitas pesawat di Bandara,” kata Halik Genuni.

  Sementara itu, penundaan pelayanan penerbangan di bandara Torea Fakfak yang berlangsung pasca kejadian, Rabu (10/1) hingga Jumat (12/1), kembali diperpanjang tiga hari ke depan, karena safety bandara belum sepenuhnya terjamin. “Kami awalnya menunda penerbangan selama 3 hari pertama setelah kejadian, dan jika waktu penundaan tidak tercapai target maka otomatis diperpanjang lagi 3 hari kedepan dari 12-14 Januari 2018,” kata Halik Ginuni.

Penundaan penerbangan telah diberitahukan secara resmi oleh Kepala UPBU Bandara Torea Fakfak kepada General Manager Cabang Sorong (LPPNPI) di Sorong berdasarkan permohonan nomor surat : AU.403/1/007/UPBU.FKQ-2018 tertanggal 11 Januari 2018. Surat tersebut mendasari surat pertama Nomor : AU.403/1/005/UPBU.FKQ-2018 tertanggal 10 Januari 2018 perihal permohonan penerbitan Slot Time dan Natom sebelumnya yang berlaku sampai 12 Januari 2018 jam 01.45-10.45 WIT

Berdasarkan surat itulah lanjut Halik Ginuni, disampaikan bahwa proses evakuasi dan pembersihan material diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 3 hari kedepan sampai 14 Januari 2018.

“Kami sudah layangkan surat ke General Manager (Perum LPPNPI) Cabang Sorong untuk meminta menerbitkan izin perpanjangan Notam Closed sehingga proses pembersihan bandara bisa maksimal,” jelanys.

Pihak Bandara Torea Fakfak saat ini masih disibukkan dengan pembersihan runway dari material longsor, serta perbaikan lampu bandara yang runtuh tertimpa longsor. Setelah jenazah korban ditemukan, pihak bandara bersama-sama dengan karyawan perusahaan kontraktor, melakukan persiapan pembersihan selanjutnya yang diharapkan rampung pada 14 Januari mendatang.  (ret/ric)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *